Diharuskan Bayar Pajak Lagi, Laba Bank Niaga Hanya Naik 2%
Rabu, 27 Jul 2005 18:15 WIB
Jakarta - Diwajibkannya bank-bank yang dulu direkapitalisasi untuk kembali membayar pajak pada tahun ini membuat laba 'mantan' bank rekap berkurang. Tak terkecuali Bank Niaga.Selama periode semester I-2005, Bank Niaga hanya mencatat kenaikan laba bersih sebesar 2 persen menjadi Rp 308 miliar, dari posisi periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 302 miliar. Demikian disampaikan Dirut Bank Niaga Peter B. Stok dalam jumpa pers di Graha Niaga, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Rabu (27/7/2005).Kenaikan laba bersih ini sangat tipis karena Bank Niaga mulai tahun ini sudah tidak mendapat dispensasi pajak yang sebelumnya diberikan kepada bank rekap. Bank lain yang juga harus merogoh labanya untuk membayar adalah Bank Lippo. Tercatat Bank Lippo harus membayar pajak lagi Rp 86 miliar, yang menyebabkan perbedaan mencolok antara laba bersih dan laba sebelum pajak. Bank Niaga selama semester I-2005 mencatat kenaikan pendapatan bunga bersih 20,76 persen menjadi Rp 855 miliar, dibandingken periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 708 miliar. Pendapatan bunga bersih ini terutama berasal dari kontribusi pendapatan bunga kredit. Total kredit yang telah disalurkan selama semester I mencapai Rp 25,54 triliun, atau naik 54,56 persen dibandingkan Juni 2004 sebesar Rp 16,53 triliun. Untuk tahun 2005, pertumbuhan kredit diprediksi mencapai 30 persen. Jika dihitung selama enam bulan pertama, kredit yang telah disalurkan sebesar 16 persen sehingga sudah separuh target disalurkan untuk kredit dan diharapkan hingga akhir tahun 2005 target kredit tercapai.Pendapatan non bunga atau fee based income turun 29,85 persen menjadi Rp 188 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, Rp 268 miliar. Menurut Peter, pendapatan fee based income yang tinggi pada tahun lalu dikarenakan ada penjualan obligasi rekap Rp 120 miliar. Dengan demikian jika penjualan obligasi rekap tidak dimasukkan sebenarnya fee based income tetap naik 36 persen.Untuk dana pihak ketiga mencapai Rp 27,15 triliun atau naik naik 31,35 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp 20,64 tiliun. Kinerja keuangan lainnya adalah CAR 10,33 persen, NPL net 4,44 persen, LDR 93,2 persen. Modal Bertambah Pascapenerbitan obligasi US$ 100 juta dan right issue September mendatang, modal Bank Niaga akan bertambah menjadi Rp 5 triliun. Perseroan menargetkan bisa menjadi bank nasional dengan modal Rp 10 triliun pada tahun 2010. Dengan perhitungan modal saat ini Rp 5 triliun, plus tambahan laba bersih minimal Rp 700 miliar per tahun, maka dalam lima tahu ke depan, modal Bank Niaga diharapkan bisa mencapai Rp 8,5 triliun. Menurut Peter, sisa Rp 1,5 triliun yang harus dicukupi untuk menjadi bank nasional tidaklah sulit.Right issue Bank Niaga menawarkan 3.970.987.908 saham seri B dengan nilai nominal Rp 50 dan harga penawaran Rp 330. Menurut Peter, saat ini pihaknya tidak perlu meminta izin dari Bank Indonesia lagi untuk right issue ini. Right issue Bank Niaga menawarkan rasio empat saham lama mendapat dua saham baru ditambah satu waran seri I sebagai pemanis. Untuk right issue ini perseroan akan minta persetujuan pemegang saham pada 25 Agustus 2005.
(qom/)











































