Laba BNI Turun 40,5%, NPL Naik

Semester I-2005

Laba BNI Turun 40,5%, NPL Naik

- detikFinance
Kamis, 28 Jul 2005 15:19 WIB
Jakarta - Paruh waktu tahun 2005 tampaknya bukan milik bank pelat merah, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI). Selama semester I-2005, BNI justru mencatat penurunan laba bersih hingga 40,5 persen, sementara NPL-nya melonjak menjadi 12,98 persen.Dengan penurunan hingga 40,5 persen, maka posisi laba bersih BNI menjadi Rp 919 miliar. Padahal pada periode yang sama tahun sebelumnya, BNI mampu membukukan laba bersih hingga Rp 1,546 triliun.Selain itu, rasio kredit bermasalah (NPL) BNI melonjak menjadi 12,98 persen dari posisi akhir tahun 2004 sebesar 4,6 persen. Demikian disampaikan Dirut BNI Sigit Pramono dalam jumpa pers di kantor pusat BNI, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (28/7/2005).Menurut Sigit, penurunan laba bersih ini terjadi karena adanya faktor kewajiban pajak yang mulai diberlakukan lagi pada 'mantan' bank rekap pada tahun 2005 ini. Selain itu penurunan laba ini juga dipicu implementasi Peraturan Bank Indonesia (PBI) No 7/2/2005 yang telah mendorong berkurangnya tingkat profitabilitas BNI. Dari sisi pendapatan, bunga bersih mengalami kenaikan 9,39 persen menjadi Rp 3,67 triliun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp 3,36 triliun. Dana pihak ketiga hanya naik 5,25 persen menjadi Rp 105,51 triliun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.Total kredit yang telah disalurkan sampai semester I-2005 telah mencapai 61,47 triliun, yang berarti naik 20,67 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 50,933 triliun. Jika dibandingkan posisi kredit sebesar Rp 57,868 persen pada akhir tahun 2004, pertumbuhan kredit BNI selama semester I hanya 6,2 persen. Diakui, pertumbuhan kredit BNI masih di bawah kriteria bank jangkar yang sebesar 22 persen. Pasalnya, menurut Sigit, BNI tidak mau terlalu ekspansi menyalurkan kredit karena khawatir akan meningkatkan NPL. Maka itu, lanjut Sigit, pada tahun 2005 ini kredit diperkirakan hanya tumbuh 15 persen. Meningkatnya NPL selama semester I-2005 karena BNI harus melakukan penyisihan pencadangan aktiva produktif (PPAP) sebesar 132,4 persen sesuai PBI 7 tahun 2005. Kredit macet selama semester I-2005 meningkat Rp 5,325 triliun, dan 60,8 persennya diakibatkan dari pelaksanaan PBI No 7 dan sisanya karena faktor non PBI. Beberapa perusahaan yang masuk kategori NPL tinggi di BNI adalah Raja Garuda Mas dan Bosowa. Namun demikian Sigit optimistis sampai akhir tahun 2005, NPL BNI bisa turun minimal 5 persen sesuai aturan BI. Salah satu upaya yang akan dilakukan adalah restrukturisasi seperti penghapusbukuan kredit yang programnya sekitar Rp 800 miliar. Selama semester I-2005, BNI mancatat CAR yang memasukkan risiko kredit sebesar 16,67 persen dan CAR yang memasukkan risiko pasar sebesar 15,98 persen. Pendapatan fee based income selama semeter I mengalami penurunan menjadi Rp 876 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp 1,171 triliun. Penurunan fee based income terutama dari divisi treasury, pasalnya pada tahun ini kegiatan treasury lebih sedikit dibandingkan tahun 2004 yang marak dengan kegiatan surat berharga dan foreign exchange. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads