Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 03 Agu 2018 17:21 WIB

Cara BI Rayu Eksportir Agar Konversi Dolar AS ke Rupiah

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: Sylke Febrina Laucereno/detikFinance Foto: Sylke Febrina Laucereno/detikFinance
Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) beberapa waktu lalu meminta pengusaha untuk mencatatkan dan mendiamkan devisa hasil ekspor (DHE) di dalam negeri. Hal ini untuk membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Oleh karena itu, para pengusaha alias eksportir harus melakukan konversi penghasilannya dalam dolar AS ke rupiah.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menjelaskan ada beberapa upaya yang akan dilakukan oleh BI untuk mendorong eksportir untuk mengkonversi pendapatannya ke rupiah.

"Ada beberapa upaya mengenai dorongan ekspor dan mengurangi impor. Kalau Menteri Keuangan melihat perpajakannya, kalau kami (BI) memastikan rupiah stabil dan kami pastikan lagi jangka pendeknya kami menstabilkan ekonomi," kata Perry di gedung BI, Jakarta Pusat, Jumat (3/8/2018).


Perry menjelaskan langkah BI dan pemerintah ini juga untuk mengendalikan current account deficit (CAD) dan meningkatkan devisa.

"Saya rasa kawan-kawan sudah mendengar pernyataan bu Sri Mulyani untuk mendorong ekspor tak hanya memasukkan devisa ke Indonesia, tapi juga mengkonversi ke rupiah," ujar Perry.

Dia menyebut saat ini ada sekitar 15-16% DHE yang sudah dikonversikan ke rupiah. Perry menambahkan dari Kemenkeu ada insentif yang akan diberikan bagi eksportir yang memasukkan DHE ke Indonesia, misalnya pajak yang lebih rendah. Kemudian BI juga berupaya agar instrumen swap dan forward bisa lebih rendah dan murah.

"Jadi para eksportir bisa mengkonversi rupiah dari spot dan kalau memang mereka masih ingin pegang dolar AS tapi juga butuh rupiah bisa melalui swap. Demikian juga untuk importir yang butuh dolar tak harus ke swap bisa ke forward," imbuh dia.

Swap adalah transaksi pertukaran dua valuta asing (valas) melalui pembelian tunai dengan penjualan kembali secara berjangka atau penjualan tunai dengan pembelian kembali secara berjangka. Misalnya ada eksportir A yang ingin melakukan swap dia menjual dolar AS dengan rupiah dalam jangka waktu satu bulan dengan nilai dolar yang sama saat ditransaksikan.

Dia menjelaskan biaya swap di BI kurang lebih sekitar 5% untuk jangka waktu satu bulan. Kemudian 6% untuk tenor enam bulan, angka tersebut dinilai cukup murah.

"Kami juga dorong eksportir lakukan konversi ke rupiah atau swap. Atau saat bayar utang tak harus semua ke spot tapi bisa lewat forward dengan biaya yang relatif murah," jelas dia.


Perry menambahkan, BI juga terus memantau pergerakan pasar dan tidak segan melakukan intervensi untuk stabilisasi nilai tukar rupiah. Karena langkah tersebut, Perry mengungkapkan saat ini nilai tukar Rupiah relatif stabil.

"Rupiah kita relatif stabil, ya kalau seluruh dunia melemah, terus Rupiah melemah ya itu wajar. Tapi kita lihat pelemahan rupiah termasuk lebih rendah dibanding negara lain seperti India, Brasil hingga Turki," jelas dia.

Kemudian BI juga mengeksplorasi pilihan lain yang mungkin dilakukan. Untuk itu BI juga akan berkoordinasi lebih intens dengan pemerintah dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). (ara/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed