BEI Menilai Akuisisi Indover Bernilai Strategis
Selasa, 09 Agu 2005 18:10 WIB
Jakarta - Bank Ekspor Indonesia (BEI) menilai rencana akuisisi terhadap NV Indover Bank, anak perusahaan Bank Indonesia (BI), memiliki nilai strategis. Hal ini penting untuk mengembangkan jaringan internasional BEI dalam rangka menjadi Export Credit Agency (ECA). "Kita akan menjadi ECA dan untuk itu perlu membuat jaringan internasional, jadi kalau berhasil mengakuisisi Indover itu memiliki nilai strategis," kata Direktur BEI Evy Firmansyah di Gedung Bursa Efek Jakarta (BEJ), Selasa (9/8/2005). Sejauh ini menurut Evy, rencana akuisisi Bank Indover oleh BEI masih sebatas wacana, karena belum ada persetujuan dari pemegang saham dan BI. "Belum ada pembahasan lebih lanjut," katanya. Maka itu, kata Evy, pihaknya menunggu lampu hijau dari pemegang saham dan pemiliknya. Apalagi perseroan juga harus bersaing dengan PT Bank Negara Indonesia (BNI) yang juga berminat melakukan akuisisi Indover. Saat ini, kata Evy, BEI terfokus upaya perubahan menjadi ECA yang diharapkan bisa terealisasi tahun depan. Menurutnya, pembahasan ECA sudah mengalami sedikit kemajuan dengan dibentuknya tim antardepartemen terkait. Sedangkan pembahasan di DPR, menurutnya, masih agak lama karena saat ini drafnya ada di urutan ke-212 untuk pembuatan RUU-nya. "Sekarang kita fokus ke ECA dulu, tapi kalau dua-duanya bisa, jadi ECA dan akuisisi Indover itu lebih baik," katanya. Mengenai dana yang harus dikeluarkan jika melakukan akuisisi Indover, menurut Evy, saat ini perseroan memiliki modal Rp 3 triliun dan dari retained earning Rp 700 miliar. Seperti diketahui, usul pembelian Bank Indover oleh bank domestik muncul setelah proses divestasi terakhir pada Maret 2005 kembali gagal. Saat itu BI batal menjual ke Crosby sebagai penawar yang diutamakan, karena tidak mendapatkan hasil maksimal.BI mempunyai empat anak perusahaan untuk mendukung kegiatannya. Namun sesuai dengan UU 23/1999, Bank Indonesia harus menjual anak perusahaannya.BI sudah melikuidasi satu anak perusahaannya tahun lalu, yakni PT Bina Usaha Indonesia (BUI). Saat ini BI tinggal memiliki PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo), PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (BPUI), dan Bank Indover. Bank Indover yang berpusat di Belanda memiliki cabang di Hongkong dan Singapura. BI telah membentuk Indoplus BV untuk menampung aset bermasalah Indover. Kredit bermasalah (non performing loan/NPL) telah dipindahkan ke Indoplus BV.
(qom/)











































