Yang Penting Modalnya Bertambah
BTN Tak Harus Merger dengan BNI
Rabu, 10 Agu 2005 12:20 WIB
Jakarta - Pemerintah membuka peluang kepada bank-bank lain di luar BNI untuk mengakuisisi BTN. Yang pasti, pemerintah ingin memperkuat modal BTN guna mewujudkan program pembangunan 1 juta rumah."Pilihannya banyak, tidak harus dengan BNI," kata Menneg BUMN Sugiharto di sela-sela acara pemberian penghargaan annual report award di Gedung Danapala, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Rabu (10/8/2005).Ditegaskan Sugiharto, pemerintah sebenarnya sangat ingin membesarkan BTN dan mempertahankan BTN sebagai mortgage (pembiayaan perumahan). "Tapi problemnya adalah kita harus membangun 1 juta rumah. Mustahil dengan modal yang dimiliki BTN saat ini mampu menjalankan program itu dalam lima tahun yang akan datang," urai Sugiharto.Menurut Sugiharto, untuk mencapai target pembangunan 1 juta rumah itu memerlukan dukungan modal yang kuat. Saat ini BTN tercatat memiliki modal sebesar Rp 1,25 triliun. Modal itu masih sangat kurang untuk memenuhi ketentuan sebagai bank fokus yang harus memiliki modal Rp 10 triliun hingga Rp 100 triliun sesuai ketentuan Arsitektur Perbankan Indonesia (API). Ditegaskan, pemerintah melalui APBN tidak akan menyediakan tambahan modal untuk BTN. "Karena itu kita harus cari dari pasar," tegasnya.Sugiharto menyatakan, BNI hanyalah salah satu institusi yang dinilai tepat untuk mengakuisisi BTN. "BNI salah satu. Tapi banyak BUMN-BUMN lain yang besar yang punya kemampuan untuk menambah modal BTN," ujarnya. Ditargetkan, akuisisi BTN ini harus rampung pada tahun 2005 ini.Yang jelas, tambah Sugiharto, untuk merger ini, pemerintah akan berkonsultasi dengan BI. "Karena yang paling tahu tentang kecukupan kewajaran dan kesehatan dari bank-bank pemerintah adalah BI. Dan nanti BI-lah yang akan memberi konsep," katanya.Upaya mencarikan modal BTN lewat IPO dinilai Sugiharto tidak akan memberi banyak hasil. "IPO 20 persen BTN sangat sedikit. Itu seperti menghisap permen buat pemerintah. Kasihan ada dilusi," ujar mantan direktur keuangan Medco ini.Mengenai pembangunan perumahan, Sugiharto menilai saat ini masih sangat kurang, karena hanya mencapai 20 ribu unit dalam setahun. "Itu terlalu rendah. Target-target kuantitatif dari pemerintah tidak tercapai," tandasnya.
(qom/)











































