Follow detikFinance
Senin, 24 Sep 2018 12:12 WIB

Disinggung Ratna Sarumpaet, Begini Peran dan Tugas World Bank

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Ilustrasi/Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim/Foto: Maikel Jefriando/detikFinance Ilustrasi/Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim/Foto: Maikel Jefriando/detikFinance
Jakarta - Nama World Bank atau Bank Dunia disebut-sebut oleh Ratna Sarumpaet soal kasus aduan pemblokiran dana bantuan pembangunan Papua sebesar Rp 23 triliun. Ratna menyebut dana bantuan tersebut diblokir pemerintah, di mana dana tersebut disebut berasal dari World Bank (Bank Dunia) yang ditransfer ke rekening milik seseorang bernama Ruben PS Marey.

Sebenarnya, apakah itu Bank Dunia, serta apa tugas dan fungsinya?

Bank Dunia sendiri resmi didirikan pada 27 Desember 1944 sebagai badan resmi Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) dengan fungsi yang berbeda dengan badan lain.

Setelah dibentuk Bank Dunia, perang berakhir. Saat itu terjadi kebangkrutan di mana-mana. Perbaikan ekonomi pun sangat dibutuhkan. Mengutip situs resmi Worldbank.org, Senin (24/9/2018), negara yang menjadi korban perang terutama di Eropa membutuhkan aliran dana segar untuk melakukan rekonstruksi perekonomian paska perang.

Prancis merupakan negara pertama yang mendapatkan kucuran dana dari Bank Dunia sebesar US$ 250 juta. Tujuan utama Bank Dunia memang untuk membangun ekonomi kawasan Eropa paska perang dunia II dengan skema pemberian dana investasi.

Ada lima tujuan didirikannya Bank Dunia. Pertama, membantu rekonstruksi dan pembangunan di daerah anggota dengan cara memfasilitasi investasi modal untuk tujuan produktif.



Berdasarkan situs am2018bali.go.id, Bank Dunia juga berperan untuk mendorong investasi swasta luar negeri melalui jaminan atau partisipasi dalam pemberian pinjaman dan investasi lainnya oleh investor swasta. Selanjutnya, Bank Dunia juga mendorong perdagangan internasional jangka panjang dengan mempertahankan kesimbangan saldo pembayaran. Lalu menyusun pinjaman internasional melalui sumber lainnya sehingga dapat membiayai proyek mendesak baik besar atau kecil dengan jaminan Bank Dunia.

Bank Dunia juga menjalankan kegiatan dengan dasar untuk mempengaruhi investasi internasional dalam persyaratan bisnis dalam daerah anggota dan dalam tahun tahun setelah perang untuk membantu membuat masa transisi dari suasana perang ke keadaan ekonomi yang damai.

Saat ini, ada lima sub organisasi di bawah Bank Dunia, yaitu Bank Internasional untuk Rekonstruksi dan Pembangunan (IBRD), International Development Association (IDA), International Finance Corporation (IFC), Multilateral Investment Guarantee Agency (MIGA), dan Pusat Internasional untuk Penyelesaian Perselisihan Investasi (ICSID). IBRD berfokus pada skema pemberian bantuan kepada negara-negara berpenghasilan menengah yang layak kredit, sedangkan IDA membantu negara-negara miskin.

Bank Dunia seringkali memberikan bantuan dalam bentuk dua hal sekaligus. Yakni dana pinjaman dan rekomendasi kebijakan, terutama terkait kebijakan keuangan atau yang berhubungan dengan proyek yang didanai.

Di Indonesia sendiri, Bank Dunia mulai berperan saat memberikan pinjaman di awal masa pemerintahan Presiden Soeharto pada tahun 1968. Sebelum memberikan pinjaman ke Indonesia, Bank Dunia terlebih dahulu memberikan bantuan teknis untuk identifikasi kebijakan makroekonomi, kebijakan sektoral yang diperlukan, dan kebutuhan pendanaan yang kritis.

Pada masa-masa awal pemberian pinjaman, Indonesia masih dianggap sebagai negara yang memiliki nilai credit worthiness yang rendah. Pinjaman yang diberikan oleh Bank Dunia pada saat itu menggunakan skema IDA atau pinjaman tanpa bunga, kecuali administrative fee ¾ % per tahun dengan jangka waktu pembayaran 35 tahun dan masa tenggang 10 tahun.



Dana pinjaman pertama yang diberikan kepada Indonesia sebesar US$ 5 juta pada September 1968. Dana tersebut digunakan untuk pembangunan di bidang pertanian, perhubungan, perindustrian, tenaga listrik, dan pembangunan sosial. Tahun berikutnya, Indonesia berhasil menunjukkan performa ekonomi yang memuaskan, dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi sebesar 7% per tahun. Pertumbuhan ini jauh lebih besar dari rata-rata pertumbuhan ekonomi negara peminjam yang lain.

Sejak akhir dekade 70-an Indonesia sudah mulai dianggap sebagai negara yang lebih creditworthy untuk memperoleh pinjaman Bank Dunia yang konvensional atau dengan menggunakan skema IBRD. Berbeda dari periode sebelumnya, pada dekade 80-an, pinjaman uang Bank Dunia terlihat lebih terarah pada masalah deregulasi sektor keuangan, selain masih tetap digunakan bagi pengembangan sektor-sektor riil seperti dituliskan di atas.

Sejak tahun 1968 hingga saat ini, Bank Dunia telah membiayai lebih dari 280 proyek dan program pembangunan di Indonesia. Sektor yang paling banyak mendapatkan dana pinjaman adalah sektor energi, industri, dan pertanian. Sementara yang sektor yang paling mendominasi dana pinjaman selama 20 tahun pertama adalah infrastruktur yang pemberiannya ditujukan kepada masyarakat miskin.



Saksikan juga video 'Pertemuan IMF-World Bank Dongkrak Ekonomi Bali':

[Gambas:Video 20detik]

(kil/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed