SBY: Kenaikan Suku Bunga Bisa Perlambat Pertumbuhan Ekonomi
Selasa, 16 Agu 2005 12:42 WIB
Jakarta - Keputusan Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan BI rate hingga 8,75 persen yang dimaksudkan untuk menjaga stabilitas ekonomi, akan memunculkan dilema baru. Kenaikan suku bunga tersebut akan berdampak pada peningkatan beban utang pemerintah serta kemungkinan memperlambat momentum pertumbuhan ekonomi. "BI telah menaikkan suku bunga mencapai 8,75 persen untuk menjaga stabilitas ekonomi yang memunculkan dilema karena akan berdampak pada peningkatan beban utang pemerintah serta kemungkinan memperlambat momentum pertumbuhan ekonomi kita," kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).Ia menyampaikan hal tersebut saat menyampaikan Pidato Kenegaraan serta Keterangan Pemerintah Tentang RUU APBN 2006 Beserta Nota Keuangannya pada Rapat Paripurna DPR-RI di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Selasa (16/7/2005). Presiden juga menyampaikan, stabilitas makro ekonomi Indonesia mengalami tekanan yang cukup berat seiring perekonomian global yang berubah cepat dan cenderung tidak ramah. Untuk itu, pemerintah akan bersikap hati-hati untuk mengelola stabilitas makro ekonomi agar momentum pertumbuhan ekonomi tidak terganggu. "Saat ini momentum pertumbuhan cukup membesarkan hati. Namun perlu kita jaga secara hati-hati dan waspada karena lingkungan perekonomian global terus berubah secara cepat dan cenderung tidak ramah," kata Presiden.Menurut dia, ketidakseimbangan perekonomian global telah menyebabkan gejolak nilai tukar antarnegara yang berdampak ke Indonesia. Tingkat suku bunga internasional juga cenderung meningkat ditambah dengan lonjakan harga minyak mentah dunia. "Nilai rupiah yang cenderung melemah, harga minyak dunia yang tinggi dan permintaan domestik yang pesat telah menimbulkan tekanan inflasi," kata Presiden. Selama semester I-2005, pertumbuhan ekonomi telah mencapai 6,2 persen yang ditopang oleh investasi dan ekspor. Pada periode ini, investasi tumbuh 13,6 persen, ekspor tumbuh 10,2 persen. Dicontohkan Presiden, berdasarkan hasil kunjungan ke Cina telah menghasilkan kesepakatan peningkatan investasi sebesar US$ 9 miliar untuk tiga tahun mendatang. Kerjasama BUMN dan swasta juga menghasilkan penandatanganan investasi sebesar US$ 8,5 miliar. Sedangkan dengan Jepang, pemerintah telah memulai perundingan Economic Partnership Agreement (EPA) dan Strategist Investment Action Plan untuk melipatgandakan investasi hingga US$ 20 miliar dalam 5 tahun mendatang. Pemerintah juga telah menyelesaikan perundingan perpanjangan kontrak dengan ExxonMobil yang melibatkan nilai investasi US$ 2,5 miliar dan diharapkan akan menghasilkan total produksi senilai US$ 25 miliar. Sejalan dengan harga minyak dunia yang terus melonjak, dipastikan anggaran pemerintah akan mendapat tekanan yang berat. Dalam asumsi presiden, jika harga minyak dunia bertahan seperti saat ini di atas US$ 66 per barel, maka subsidi BBM tahun anggaran 2005 diperkirakan mencapai lebih dari Rp 140 triliun. "Beban utang pemerintah juga akan meningkat seiring dengan kenaikan suku bunga domestik dan global. Defisit anggaran tahun ini akan membengkak jadi 1 persen PDB," katanya.
(qom/)











































