Demand Dolar Memuncak
Rupiah Tembus Level Rp 9.900
Selasa, 16 Agu 2005 15:30 WIB
Jakarta - Nilai tukar rupiah terus terpuruk, dan pada perdagangan Selasa (16/8/2005) menembus level Rp 9.903 per dolar AS, yang merupakan level terendah sejak Maret 2002. Bank Indonesia (BI) menuding, pelemahan rupiah kali ini dipicu tingginya permintaan dolar AS, yang salah satu disebabkan oleh tingginya harga minyak dunia."Pelemahan itu karena permintaan dolar tinggi. Dan saya kira disebabkan oleh harga minyak yang meningkat. Barangkali mereka (pelaku pasar) melihat perlu untuk membeli dolar," kata Deputi Gubernur BI Bun Bunan Hutapea usai mengikuti rapat paripurna di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Selasa (16/8/2005).Menyikapi hal itu, BI akan terus memantau dan masuk ke pasar agar fluktuasi rupiah tidak terlalu tinggi. "Pada prinsipnya kita akan menjaga jangan sampai fluktuasi arahnya naik. Kita akan jaga kestabilannya," kata Bun Bunan.Gubernur BI Burhanuddin Abdullah mengatakan, BI akan terus memonitor perkembangan nilai tukar rupiah. Diakui, faktor eksternal seperti harga minyak dan suku bunga internasional turut memberikan tekanan terhadap kondisi makro ekonomi. "Gejala-gejala eksternal menunjukkan bahwa makro ekonomi kita tertekan," katanya. BI akan berada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar. "Salah satu tugas kita adalah menjaga stabilitas, dengan masuk ke pasar. Tapi pada saat yang sama kinerja ekspor kita dan kinerja investasi harus tetap ditingkatkan," ujarnya.Mengenai target pemerintah terhadap nilai tukar rupiah tahun 2006 yang dipatok Rp 9.400 per dolar AS, Burhanuddin mengatakan, target tersebut realistis karena pemerintah akan mencoba menggenjot investasi dan ekspor."Presiden tadi menjelaskan berbagai investasi yang akan masuk ke Indonesia. Kinerja ekspor juga akan meningkat di masa depan sehingga perkiraan presiden nilai tukar Rp 9.400 itu cukup beralasan," ujarnya.
(qom/)











































