Debt Switching Obligasi Negara Tunggu Pasar Membaik

Debt Switching Obligasi Negara Tunggu Pasar Membaik

- detikFinance
Kamis, 18 Agu 2005 15:40 WIB
Jakarta - Pemerintah hingga saat ini belum melakukan debt switching atau penggantian surat utang negara (SUN) karena masih menunggu membaiknya kondisi pasar yang masih rentan terhadap gejolak rupiah dan suku bunga."Debt switching kan mengubah obligasi menjadi berjangka waktu lebih panjang. Kita lihat pasar obligasi jangka panjang saat ini belum bagus," kata Direktur Direktorat Pengelolaan Surat Utang Negara Depkeu Rahmat Waluyanto di Hotel Aryaduta, Jakarta, Kamis (18/8/2005).Rahmat menegaskan, pemerintah belum menyiapkan debt switching hingga kondisi pasar nyaman. Sementara pasar sendiri saat ini masih menantikan kebijakan BI tentang tingkat suku bunganya. "Karena kebijakan BI sangat mempengaruhi situasi pasar sekunder. Kita lihat kebijakan BI, pasar akan melihat kebijakan itu. Mereka akan melihat kebijakan lain," kata Rahmat.Ia menambahkan, jika pemerintah tidak berhasil melakukan pengelolaan risiko secara baik dan tidak berhasil mengembangkan pasar sekunder yang aktif dan likuid, maka pada tahun 2009 nanti, biaya yang harus dikeluarkan pemerintah untuk menerbitkan obligasi baru menjadi semakin mahal. "Memang kita tidak akan default, tapi kalau kita akan terbitkan obligasi baru akan lebih mahal," ujarnya. Oleh karenanya, pemerintah akan berupaya membeli kembali atau buy back. Selain dimaksudkan untuk stabilisasi pasar, buy back juga untuk mengurangi jumlah stok utang. Namun buy back baru akan dilakukan ketika kondisi pasar bearish. "Semuanya harus dilakukan dengan menaati market value. Arahan kita adalah bagaimana menurunkan rasio utang," ujarnya. Ia mengakui, ke depan pasar obligasi negara semakin menurun karena banyaknya korporasi menerbitkan obligasi. Selain juga penerbitan obliasi untuk pembangunan infrastruktur. Oleh karenanya, ke depan pemerintah mencoba membidik pasar obligasi di luar negeri. "Kita fleksibel, tidak hanya melihat pasar donmestik tapi juga pasar luar negeri. Kita lihat mana biaya yang paling rendah dan risikonya paling kecil," tandasnya. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads