Pemerintah melalui Bursa Efek Indonesia (BEI) telah mencanangkan program Yuk Nabung Saham (YNS) sejak November 2015 silam. Kampanye YNS mengajak masyarakat berinvestasi di pasar modal sebagai alternatif dari menabung di bank. Sebab banyak dana mengendap atau biasa disebut uang diam yang menggemuk di rekening bank.
Namun, sosialisasinya pun kurang menjangkau masyarakat di pelosok daerah atau investor awam yang hanya mengenal bank sebagai lembaga investasi. Melihat hal ini, para pendiri Prime Academy, salah satu institusi edukasi investasi independen, membuat kampanye Ayo Belajar Pasar Modal. Hal ini bertujuan untuk menyelaraskan program pemerintah dengan edukasi yang baik dan tertata.
"Kami memang bertujuan untuk membuat sukses kampanye YNS dari BEI ini agar dapat menggerakkan ekonomi nasional lebih cepat lagi. Karena dana yang diam di bank justru memberatkan bagi negara dan bisa membuat pertumbuhan ekonomi menjadi loyo," papar Pendiri dan Direktur Eksekutif Prime Academy Wayne Ramshie dalam keterangan tertulis, Minggu (7/10/2018).
Hal tersebut ia sampaikan saat membuka konferensi pers kampanye Ayo Belajar Pasar Modal yang diadakan Jumat (5/10) lalu yang juga di hadiri para mitra yang mendukung program ini.
Saat sesi pertanyaan berlangsung, Wayne mengutarakan keinginannya untuk bekerja sama dengan institusi swasta, kampus-kampus, atau biro pemerintahan yang membutuhkan edukasi investasi. Bahkan ia dengan tegas mengatakan akan memberikan edukasi tersebut secara gratis.
"Karena pengetahuan dasar investasi itu perlu. Di negara lain dimulai dari high school, lho! Di kami ada seminar setiap Selasa dan Kamis, workshop setiap Jumat di gedung ini (Multivision Tower lantai 25), dan seminar di luar kota satu atau dua bulan sekali lah. Silahkan ikut. Itu gratis, kok. Kalau dari mereka ada yang mau lebih serius mendalami industri investasi keuangan kami juga ada layanan berbayar untuk setiap instrumen dari aset yang diminati," terang Wayne.
Terkait tenaga pengajar, Wayne menjelaskan mereka hanya mengambil pengajar khusus yang bersertifikasi internasional. Hal ini juga sejalan dengan pemilihan kemitraan Prime Academy yang hanya mau bermitra dengan partner yang memiliki regulasi jelas. Salah satunya HST Hedge Capital dan GK Invest di Indonesia yang merupakan anak perusahaan dari GK Group yang juga memiliki GKFX Prime.
Sebelumnya, Prime Academy telah memberikan edukasi kepada para traders di Surabaya dan Pekanbaru pada Agustus lalu. Rencananya, Prime Academy akan menjalin kerja sama dengan sekuritas dalam waktu dekat.
"Tunggu tanggal mainnya. Informasi ini akan kami update di website dan media social Prime Academy. Karena kami memang menyaring mitra demi menjaga independensi kami sebagai institusi edukasi," tegas Wayne.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama dari PT Global Investama (GK Invest) M. Ali Jaya yang merupakan mitra dari Prime Academy pun mengaku mendukung program ini.
"Di industri investasi, pemerintah hanya fokus di saham padahal banyak instrumen investasi lainnya yang mungkin lebih cocok dengan keinginan investor. Kami mendukung program-program dari Prime Academy karena memang sejalan dengan keinginan kami memperkenalkan instrumen lain seperti forex, futures, dan lainnya," jelas Ali.
Perwakilan dari perusahaan jasa pengelolaan keuangan HST Hedge Capital Hendrikus Siahaan, CFA., pun menyatakan pengetahuan investor yang berada di kalangan menengah masih terlalu minim. Pengetahuan mereka juga kurang bisa membuat mereka memindahkan dari bank ke pasar modal.
"Kami sebenarnya kesulitan juga untuk memberikan penawaran kepada para calon nasabah meskipun sudah sesuai aturan dan keamanan pengelolaan dana yang terjamin 2-5% konsisten per bulan. Ya, karena itu, edukasinya kurang. Mereka (Prime Academy) ajak saya buat jadi mentor, ya jelaslah saya setuju karena visinya sejalan. Edukasi. Titik," kata Hendrikus.
Sementara itu, edukasi instrumen investasi yang diajarkan dalam pelatihan Prime Academy terdiri dari obligasi, valuta asing atau forex, saham dan instrumen investasi di pasar keuangan lainnya.
Namun, sosialisasinya pun kurang menjangkau masyarakat di pelosok daerah atau investor awam yang hanya mengenal bank sebagai lembaga investasi. Melihat hal ini, para pendiri Prime Academy, salah satu institusi edukasi investasi independen, membuat kampanye Ayo Belajar Pasar Modal. Hal ini bertujuan untuk menyelaraskan program pemerintah dengan edukasi yang baik dan tertata.
"Kami memang bertujuan untuk membuat sukses kampanye YNS dari BEI ini agar dapat menggerakkan ekonomi nasional lebih cepat lagi. Karena dana yang diam di bank justru memberatkan bagi negara dan bisa membuat pertumbuhan ekonomi menjadi loyo," papar Pendiri dan Direktur Eksekutif Prime Academy Wayne Ramshie dalam keterangan tertulis, Minggu (7/10/2018).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal tersebut ia sampaikan saat membuka konferensi pers kampanye Ayo Belajar Pasar Modal yang diadakan Jumat (5/10) lalu yang juga di hadiri para mitra yang mendukung program ini.
Saat sesi pertanyaan berlangsung, Wayne mengutarakan keinginannya untuk bekerja sama dengan institusi swasta, kampus-kampus, atau biro pemerintahan yang membutuhkan edukasi investasi. Bahkan ia dengan tegas mengatakan akan memberikan edukasi tersebut secara gratis.
"Karena pengetahuan dasar investasi itu perlu. Di negara lain dimulai dari high school, lho! Di kami ada seminar setiap Selasa dan Kamis, workshop setiap Jumat di gedung ini (Multivision Tower lantai 25), dan seminar di luar kota satu atau dua bulan sekali lah. Silahkan ikut. Itu gratis, kok. Kalau dari mereka ada yang mau lebih serius mendalami industri investasi keuangan kami juga ada layanan berbayar untuk setiap instrumen dari aset yang diminati," terang Wayne.
Terkait tenaga pengajar, Wayne menjelaskan mereka hanya mengambil pengajar khusus yang bersertifikasi internasional. Hal ini juga sejalan dengan pemilihan kemitraan Prime Academy yang hanya mau bermitra dengan partner yang memiliki regulasi jelas. Salah satunya HST Hedge Capital dan GK Invest di Indonesia yang merupakan anak perusahaan dari GK Group yang juga memiliki GKFX Prime.
Sebelumnya, Prime Academy telah memberikan edukasi kepada para traders di Surabaya dan Pekanbaru pada Agustus lalu. Rencananya, Prime Academy akan menjalin kerja sama dengan sekuritas dalam waktu dekat.
"Tunggu tanggal mainnya. Informasi ini akan kami update di website dan media social Prime Academy. Karena kami memang menyaring mitra demi menjaga independensi kami sebagai institusi edukasi," tegas Wayne.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama dari PT Global Investama (GK Invest) M. Ali Jaya yang merupakan mitra dari Prime Academy pun mengaku mendukung program ini.
"Di industri investasi, pemerintah hanya fokus di saham padahal banyak instrumen investasi lainnya yang mungkin lebih cocok dengan keinginan investor. Kami mendukung program-program dari Prime Academy karena memang sejalan dengan keinginan kami memperkenalkan instrumen lain seperti forex, futures, dan lainnya," jelas Ali.
Perwakilan dari perusahaan jasa pengelolaan keuangan HST Hedge Capital Hendrikus Siahaan, CFA., pun menyatakan pengetahuan investor yang berada di kalangan menengah masih terlalu minim. Pengetahuan mereka juga kurang bisa membuat mereka memindahkan dari bank ke pasar modal.
"Kami sebenarnya kesulitan juga untuk memberikan penawaran kepada para calon nasabah meskipun sudah sesuai aturan dan keamanan pengelolaan dana yang terjamin 2-5% konsisten per bulan. Ya, karena itu, edukasinya kurang. Mereka (Prime Academy) ajak saya buat jadi mentor, ya jelaslah saya setuju karena visinya sejalan. Edukasi. Titik," kata Hendrikus.
Sementara itu, edukasi instrumen investasi yang diajarkan dalam pelatihan Prime Academy terdiri dari obligasi, valuta asing atau forex, saham dan instrumen investasi di pasar keuangan lainnya.











































