Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 09 Okt 2018 20:31 WIB

OJK: Pasar Modal Jadi Sumber Pembiayaan Infrastruktur

Moch Prima Fauzi - detikFinance
Foto: OJK Foto: OJK
Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan mendorong pasar modal menjadi pusat sumber pembiayaan infrastruktur nasional karena dinilai cocok untuk kebutuhan pembiayaan jangka panjang. Menurut Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, hal ini telah menjadi paradigma baru dan menjadi terobosan bagi negara berkembang seperti Indonesia.

"Ini telah menjadi paradigma baru yaitu menjadikan pasar modal sebagai pusat sumber pendanaan. Ini juga merupakan terobosan bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia, yang sebelumnya selalu mengandalkan sektor perbankan menjadi sumber utama pembiayaan selama beberapa dekade," kata Wimboh dalam keterangan tertulis, Selasa (9/10/2018).


Wimboh dalam seminar "A New Paradigm on Infrastructure Financing" di Bali mengatakan pasar modal Dallas dipilih untuk mengakomodasi dana ini karena dinilai lebih dalam dan likuid yang didukung dengan banyaknya instrumen yang ada. Seperti obligasi atau sukuk, obligasi perpetual, obligasi hijau, obligasi daerah (municipal) dan obligasi Komodo, serta pembiayaan dari keuangan campuran atau "blended finance".

"Pasar modal yang dalam dan likuid merupakan solusi untuk ketersediaan pendanaan yang masif dan jangka waktu yang panjang, sehingga liquidity mismatch dapat teratasi karena pendanaan dapat disesuaikan dengan jangka waktu proyek infrastruktur," lanjut dia.

Selain produk yang saat ini sudah ada, OJK juga terus mendorong adanya jenis instrumen baru lainnya seperti sekuritisasi yang dikhususkan untuk membiayai proyek-proyek infrastruktur.


Beberapa jenis produk yang didukung OJK untuk penggalangan dana di pasar modal seperti Reksa Dana Penyertaan Terbatas (RDPT) yang telah dimanfaatkan dalam pembiayaan pembangunan Soekarno-Hatta Airport Sky Train melalui RDPT Danareksa BUMN Fund 2016 Infrastruktur sebesar Rp 315 miliar dan RDPT Mandiri Infrastruktur Ekuitas Transjawa sebesar Rp 5 triliun untuk membangun jalan tol.

Kemudian, Reksa Dana Penyertaan Terbatas (RDPT) yang telah dimanfaatkan dalam pembiayaan pembangunan Soekarno-Hatta Airport Sky Train melalui RDPT Danareksa BUMN Fund 2016 Infrastruktur sebesar Rp 315 miliar dan RDPT Mandiri Infrastruktur Ekuitas Transjawa sebesar Rp 5 triliun untuk membangun jalan tol.

Ada juga Kolektif Efek Beragun Aset (KIK EBA) yang khusus untuk pembangunan perumahan. Serta telah dikeluarkan juga ketentuan mengenai Dana Investasi Infrastruktur Berbentuk Kontrak Investasi Kolektif (DINFRA) yang sudah digunakan dalam pembiayaan proyek Meikarta City, Dinfra Bowsprit Aoyama Commercial Fund dan DINFRA toll road MandiriJPT-001. (mul/ega)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed