Momentum Penguatan Dolar AS Terus Dijaga

Momentum Penguatan Dolar AS Terus Dijaga

- detikFinance
Sabtu, 20 Agu 2005 16:20 WIB
Jakarta - Momentum penguatan mata uang dolar AS dengan memanfaatkan prediksi naiknya suku bunga AS akan terus dijaga. Dolar akan memberi keuntungan yang lebih moderat untuk melawan mata uang besar lainnya kecuali terhadap yen. Momementum menguatnya dolar dan naiknya suku bunga The Fed dipercaya bisa menarik modal yang masuk lebih banyak lagi.Hal ini terlihat dari melemahnya mata uang euro pada penutupan pasar uang New York Jumat (19/8/2005) ke level 1,2148 per dolar dibanding hari sebelumnya di level 1,2173 per dolar.Sedangkan terhadap yen, justru dolar AS melemah ke level 110,42 per yen dibandingkan hari sebelumnya yang sebesar 110,52 per yen. Mata uang Jepang ini mencatat batas bawah baru. Hal ini terkait dengan keluarnya data yang menunjukkan minat investor asing terus berlanjut dalam membeli saham-saham di Jepang.Mata uang AS memperlihatkan penguatannya terutama dalam dua hari terakhir pada pekan ini. Kondisi ini karena dipicu oleh faktor meningkatnya kapasitas pabrik-pabrik di wilayah regional AS. Ini juga menegaskan lebih lanjut bahwa tingkat suku bunga masih dalam batas yang terjangkau untuk memperbesar ekonomi dunia.Bank of Philadelphia, yang merupakan bank sentral di negara bagian itu, pada Juli lalu memproyeksikan pertumbuhan ekonomi bisa mendekati dua digit. Hal ini terkait dengan langkah-langkah perluasan mesin untuk industri. Secara keseluruhan, data AS pada minggu ini termasuk di dalamnya mengenai sinyal inflasi, telah terlihat jelas oleh pelaku pasar uang. Mereka melihat kondisi ini akan dijaga oleh Bank Sentral sebagai jalan untuk menaikkan tingkat suku bunga sampai akhir tahun yang mungkin akan kembali dilakukan pada 2006."Dengan tingkat inflasi inti yang relatif stabil pada tahun lalu, kami memperkirakan kegiatan ekonomi yang berlangsung saat ini bisa memenuhi kebutuhan tenaga kerja," kata ekonom Deutsche Bank, Peter Hooper dan Joseph LaVorgna seperti dikutip AFP, Sabtu (20/8/2005)."Ini juga menunjukkan kepada kita adanya risiko tingginya harga minyak hanya peristiwa yang siap menaikkan inflasi inti. Namun perkiraan inflasi yang terpengaruh oleh risiko harga minyak bisa dikurangi dari pengeluaran konsumen dan melambatnya pertumbuhan. Oleh karena itu kami melihat kenaikan suku bunga The Fed akan terus terjadi sampai Desember 2005 dan berlanjut pada tahun 2006," jelas Hooper. Sejumlah pelaku pasar juga terlihat memilih risiko yang lebih kecil dengan menawar beberapa mata uang dengan harga yang lebih rendah seperti mata uang dolar Australia dan yen Jepang, karena sensitif terhadap pertumbuhan ekonomi global. Suku bunga AS terus menunjukkan kenaikan dari 3,5 persen dan diperkirakan mencapai 4 persen pada akhir tahun. Sedangkan Bank Sentral Eropa meneruskan kebijakan memangkas suku bunga dari 2 persen untuk mendorong ekonomi di 12 wilayah Uni Eropa. Mata uang dolar juga menguat menjadi 1,2755 per franc Swiss dibanding hari sebelumnya di level 1,2711. Begitu pula dengan mata uang poundsterling yang diperdagangkan di level 1,7943 per dolar dibandingkan hari sebelumnya di level 1,7947 per dolar AS. (ir/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads