Aburizal Bakrie:
Rp 10.000/US$ Bukan Batas Sakral
Senin, 22 Agu 2005 21:43 WIB
Jakarta - Menko Perekonomian Aburizal Bakrie menyatakan nilai tukar rupiah yang saat ini tembus Rp 10.000 per US$ 1 masih aman. Angka Rp 10.000 per US$ 1 bukanlah batas yang sakral dan tidak boleh dilewati."Kita katakan angka Rp 10.000 per US$ 1 bukanlah batas yang sakral, kenapa tidak Rp 11.000, Rp 15.000 dan sebagainya. Kebijakan kita kan floating, maka nilai rupiah bisa naik dan bisa turun," kata Aburizal usai Rakor di kantor Kepresidenan, Jakarta, Senin (22/8/2005).Di satu pihak angka Rp 10.000 per US$ 1 akan memperlemah posisi neraca pembayaran dalam APBN terutama pokok dan bunga utang yang dinyatakan dalam current exchange. Tapi di lain pihak, para eksportir akan mendapat sesuatu kelebihan, yakni bisa lebih kompetitif dalam bisnis."Jadi Rp 10.000 per US$ 1 itu tidak akan memperlemah pertahanan kita. Tapi akan naik dan turun. Di jangka panjang, Rp 9.400 per US$ 1 pada APBN 2006 tetap merupakan angka yang dapat dipertanggungjawabkan," tandas Aburizal.Sementara itu menyangkut materi Rakor, Aburizal menyebutkan dalam rapat dibahas mengenai kondisi current account defisit, apakah dalam posisi yang baik atau buruk. "Akhirnya kita sepakat suatu neraca perdagangan yang negatif dengan impor capai 40 persen dan ekspor hanya meningkat 14 persen, bukanlah sinyal negatif," ujarnya. Kemudian dibahas juga berbagai langkah peningkatan ekspor. "Bu Marie Elka telah gambarkan ada pabrik-pabrik yang kembali ke Indonesia. Khususnya produk sepatu internasional yang dulu pernah pindah ke tempat lain, seperti Adidas," ujarnya.Dalam rapat, lanjut Aburizal, memang diakui adanya tekanan di bidang perekonomian sejalan dengan tidak ramahnya situasi perekonomian global. "Tetapi itu semua sudah kita antisipasi. Ada jalan keluarnya. Gubernur BI sampaikan fiskal kita ke depan aman dan Menkeu menyatakan pada semester dua akan berjalan aman," ujar Aburizal.
(san/)











































