Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 26 Okt 2018 17:38 WIB

Bunga Acuan The Fed Mau Naik Lagi, Ini Langkah BI

Hendra Kusuma - detikFinance
Foto: Sylke Febrina Laucereno/detikFinance
Jakarta - Di tengah perekonomian dunia yang penuh ketidakpastian, Bank Indonesia (BI) masih belum menentukan sikap (stance) kebijakan moneter ke depan. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan belakangan ini stance kebijakan moneter Bank Sentral masih ketat (tight), yang tergambar dari inflasi yang terkendali.

"Yang diterminologi tight atau hawkish itu diukur dari hanya inflasi dalam negeri. Inflasi dalam negeri kan akhir tahun akan di bawah 3,5%, tahun depan 3,5-3,6%. Dengan policy rate sekarang ini, itu memang teminologinya tight," kata Perry di ruang konferensi pers Bank Indonesia, Jakarta, Jumat (26/10/2018).

Perry menyebut, arah kebijakan Bank Indonesia masih kepada stabilisasi nilai tukar rupiah dan membuat aset keuangan lebih banyak menarik investor.

Lebih lanjut, Perry mengungkapkan Bank Indonesia akan memantau perekonomian terlebih dahulu pada RDG selanjutnya sebelum menentukan sikap kebijakan moneter yang akan diambil.

Apalagi, bank sentral Amerika Serikat (AS) masih tetap menaikkan suku bunga meskipun Presiden Trump selalu menegur Jerome Powell terkait dampak kenaikan suku bunga.

"Kami masih pegang komunikasi dari Fed, bahwa Fed akan menaikkan suku bunga secara gradual dan akan melakukan komunikasi secara jelas. Komunikasi Fed, kemungkinan sekali tahun ini, tiga kali tahun depan, dan dua kali 2020," jelas dia.


Likuditas Cukup

BI sendiri menilai likuiditas perbankan masih tersedia cukup meskipun rasio kredit terhadap dana pihak ketiga (DPK) atau yang biasa disebut Loan to Deposit Ratio (LDR) mengalami kenaikan.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan pihaknya akan terus memantau kebutuhan likuiditas seiring dengan naiknya rasio kredit terhadap DPK.

"BI akan memastikan likuiditas di pasar uang itu cukup," kata Perry.

Per Agustus 2018, LDR bank umum tercatat 93,19% atau meningkat jika dibandingkan dengan Juli yang sebesar 93,11%. Adapun, rasio LDR menjadi perhitungan untuk melihat ketersediaan dana (likuiditas) bank untuk memenuhi penyaluran kredit.

Perry mengungkapkan, kebijakan menaikkan suku bunga bukan faktor utama yang menyebabkan ketatnya likuiditas bank.

"Kami menyampaikan kondisi likuiditas itu cukup dan sejauh ini cukup baik secara total maupun per kelompok bank. Kami akan pantau," jelas dia.

Untuk menjaga likuiditas bak, kata Perry, bank sentral akan terus melakukan operasi moneter baik harian maupun mingguan agar dana perbankan tetap terpenuhi.

"Sejauh ini yang kami pantau likuiditas di pasar uang maupun perbankan itu cukup. Dan BI akan terus memastikan likuiditas perbankan dan pasar uang itu cukup," ungkap dia.

Sedangkan untuk kredit, Perry menilai pertumbuhannya masih bagus seiring dengan tingkat konsumsi rumah tangga yang masih di level 5%.

"Terakhir kan 12,7%, itu membuktikan permintaan kredit baik dari consumption khususnya juga investasi juga mendorong permintaan kredit," ujar dia.

(fdl/fdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com