Cadangan Devisa RI Tahun 2005 Diprediksi Hanya US$ 32 Miliar
Rabu, 24 Agu 2005 10:59 WIB
Jakarta - Bank Indonesia memperkirakan cadangan devisa pemerintah Indonesia pada akhir tahun 2005 hanya akan mencapai US$ 32 miliar. Angka tersebut setara dengan empat bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Demikian kesimpulan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI seperti dikutip dari situs BI, Rabu (24/8/2005).Angka tersebut berarti lebih rendah dibandingkan angka cadangan devisa RI yang pada akhir tahun 2005 masih berada di kisaran US$ 36 miliar. Angka tersebut berarti jauh dari perkiraan Deputi Gubernur BI Hartadi A Sarwono yang pernah memrediksi cadangan devisa RI bisa mencapai US$ 40,5 miliar pada akhir 2005.Optimisme Hartadi tersebut berdasarkan perhitungan bahwa setiap kenaikan harga minyak US$ 1 per barel, akan dapat meningkatkan cadangan devisa sebesar US$ 130 juta.RDG menjelaskan, seiring tingginya investasi, impor Indonesia juga melonjak tajam dan memicu tekanan pada Neraca Pembayaran Indonesia (NPI). Transaksi berjalan Indonesia juga akan tertekan oleh lonjakan harga minyak dunia yang telah melampaui level US$ 60 per barel. Akibatnya, kebutuhan devisa untuk melakukan impor minyak bertambah besar. Hal ini semakin diperberat karena konsumsi BBM domestik juga meningkat sebesar 6 persen di semester I-2005.Sementara dari sisi transaksi modal, terjadi aliran modal dalam rangka investasi asing langsung oleh asing (FDI) dalam jumlah yang berarti, yakni secara netto surplus US$ 2,5 miliar. Hal ini sejalan dengan tingginya pertumbuhan investasi domestik di semester I-2005. Data BI menunjukkan kenaikan FDI tersebut, terutama terjadi di sektor manufaktur, keuangan dan pertanian. Di tengah aliran modal masuk oleh FDI tersebut, terjadi pula aliran modal keluar dalam jumlah besar di semester I-2005 terkait dengan pelepasan saham-saham domestik oleh asing (portofolio investasi) dan pembayaran utang luar negeri swasta. Perkembangan ini menyebabkan transaksi modal secara keseluruhan mencatat angka netto aliran modal keluar sebesar US$ 1 miliar selama semester I-2005.Di sisi internal, impor terutama barang modal dan bahan baku, serta impor minyak, diperkirakan tetap tinggi untuk menunjang kegiatan investasi di dalam negeri. Di pihak lain, kinerja ekspor Indonesia, khususnya nonmigas, diperkirakan tumbuh terbatas.Namun demikian, beberapa produk andalan di sektor manufaktur, seperti elektronik, bahan kimia, tekstil dan produk tekstil (TPT) diperkirakan akan tetap meningkat. Dengan perkembangan tersebut, maka surplus transaksi berjalan selama tahun 2005 diperkirakan mencapai 0,9 persen PDB, atau turun dibandingkan surplus pada tahun 2004 sebesar 1,2 persen PDB.Sementara itu aliran modal asing di semester II tahun 2005 diperkirakan memberikan netto pemasukan dalam jumlah berarti, terutama dari penarikan pinjaman luar negeri, baik pemerintah maupun swasta, serta kembalinya investor asing ke pasar modal dalam negeri, meskipun dalam jumlah yang masih terbatas. Dengan perkembangan tersebut, cadangan devisa resmi pemerintah akan mencapai sekitar US$ 32 miliar di akhir tahun 2005 atau setara dengan 4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
(qom/)











































