Rupiah Ambruk Akibat BI Telat Naikkan Tingkat Suku Bunganya
Jumat, 26 Agu 2005 11:28 WIB
Jakarta - Ambruknya nilai tukar rupiah hingga mendekati Rp 10.500 per US$ 1 ditengarai sebagai imbas telatnya bank sentral mengangkat tingkat suku bunganya. Akibatnya banyak dana yang parkir di bank luar negeri."Saya lihat pelemahan ini salah satu sebabnya adalah keterlambatan Bank Indonesia menaikkan tingkat suku bunganya. Di samping juga meledaknya konsumsi BBM, yang akhirnya meningkatkan kebutuhan dolar Pertamina untuk impor," kata Ekonom Citigroup Anton Gunawan kepada detikcom, Jumat (26/8/2005).Dicontohkan Anton, Bank Indonesia sangat terlambat dalam menaikkan tingkat suku bunga penjaminan dalam bentuk dolar. Awalnya BI masih menahan di kisaran 0,69 persen, baru kemudian beberapa bulan terkahir dinaikkan. Padahal jika dibandingkan dengan luar negeri, seperti Singapura, tingkat suku bunganya sudah mencapai 3 persen.Menurut Anton, jika saat ini ditengarai adanya spekulan, dipastikan kebanyakan dilakukan oleh pemain lokal. Aksi spekulasi oleh pemain asing melalui bank-bank asing sudah tertutup sejalan dengan dikeluarkannya PBI 7 tahun 2005. Dalam kesempatan perbincangan ini, Anton menyarankan setidaknya dua hal menyangkut upaya memperkuat rupiah. "Kalau yang jangka pendek ya dengan menaikkan suku bunga. Dalam jangka menengah 3-6 bulan ke depan, dengan mengurangi konsumsi BBM, baik melalui penghematan maupun penyesuaian harga," tukasnya.Dijelaskannya, meski tingkat suku bunga SBI naik, tidak serta-merta akan diikuti dengan kenaikan suku bunga perbankan. "Kalau saya rasa, sebaiknya real interest rate bisa ditingkatkan menjadi 2 persen atau lebih. Artinya, kalau inflasi diproyeksikan 8-9 persen, maka tingkat suku bunga SBI bisa dikatrol hingga 10 persen," ungkapnya.Sedangkan upaya serius pemerintah untuk menekan konsumsi BBM di dalam negeri dalam jangka menengah-panjang akan mampu menstabilkan rupiah. "Kalau konsumsi ditekan, berarti kebutuhan impor BBM juga berkurang. Sekarang ini kita cenderung boros menggunakan BBM, karena memang harganya masih sangat murah," tutur dosen Fakultas Ekonomi UI ini.
(san/)











































