Wapres: Rupiah Takkan Menguat Selama Konsumsi BBM Tinggi
Jumat, 26 Agu 2005 14:02 WIB
Jakarta - Apa pun kebijakan pemerintah untuk menahan pelemahan kurs rupiah dipandang tidak efektif selama konsumsi BBM tidak dikurangi. Konsumsi BBM yang tinggi inilah yang dinilai menjadi pemicu utama pelemahan rupiah."Apa pun kebijakan kita akan begini selama tidak kita kurangi terus menerus kebutuhan BBM kita," kata Wapres Jusuf Kalla di Istana Wapres, Jakarta, Jumat (26/8/2005).Lebih lanjut Kalla menjelaskan, saat ini Indonesia menganut sistem devisa bebas. "Artinya, kurs ditentukan oleh permintaan dan penawaran devisa," ujarnya. Nah, kondisi saat ini, kata Kalla, jumlah permintaan dolar sedang tinggi terutama berasal dari tiga hal. Pertama, bulan Agustus merupakan masa-masa tingginya impor. Kedua, proyek-proyek sudah mulai jalan, sehingga pembelian bahan baku seperti besi, aspal, bahan alat berat terus menambah impor. Ketiga, masuknya investasi. "Tentu yang paling besar average-nya, karena naiknya harga BBM yang sudah US$ 67-68 per barel, maka otomatis kebutuhan devisa untuk impor BBM makin tinggi," ujarnya. Kalla menambahkan, suplai dolar sebenarnya juga meningkat, namun jumlahnya masih kalah dibandingkan dengan besarnya permintaan. "Karena itu kita harus menekan permintaan ini dengan cara hemat BBM lebih besar lagi, sesuai rencana, dengan berbagai cara," tegas Kalla. Selain itu, kata Kalla, segala impor barang yang tidak penting harus dikurangi. "Kita harus buat lokal juga dalam perencanaan untuk mempercepat proyek yang masih dalam pipeline dari impor-impor itu," kata politisi partai Golkar ini.Menurut Kalla, rencana pengurangan impor tersebut harus dikurangi agar suplai dan permintaan dolar cepat berimbang. Mengenai penjualan obligasi dalam denominasi dolar oleh pemerintah, Kalla menegaskan bahwa langkah itu hanya efektif untuk jangka pendek. Diakui, pelemahan rupiah juga dipicu oleh sejumlah faktor eksternal. Menurutnya, tidak hanya Indonesia yang menderita akibat masalah eksternal terutama dari tingginya harga minyak ini. "Sebenarnya ini terjadi di seluruh dunia. Karena faktor BBM itu terkena seluruh dunia. Di Jepang, Thailand, Cina. Ini faktor global yang terjadi," ujarnya. Pemerintah sendiri tengah memikirkan untuk mempercepat kenaikan harga BBM yang semula diperkirakan pada Januari 2006. "Salah satu pikiran itu memang. Sedang dihitung betul waktunya," ujar Kalla.
(qom/)











































