Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 26 Nov 2018 16:28 WIB

Nasabah Fintech di Korsel Tak Diteror Debt Collector Seperti di RI

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Ilustrasi/Foto: istimewa Ilustrasi/Foto: istimewa
Jakarta - Korea Selatan melalui Korea Internet & Security Agency (KISA) menyatakan Indonesia adalah negara yang memiliki potensi besar untuk pengembangan financial technology (fintech) mulai dari peer to peer lending hingga sistem pembayaran.

Direktur KISA untuk Asia Tenggara Aaron Wonki Chung menceritakan perbandingan industri fintech di Korea Selatan (Korsel) dan di Indonesia. Ia menjelaskan di Korsel awalnya pengembangan fintech adalah untuk sistem pembayaran yIni Beda Industri Fintech di Korea dan RI ang sederhana.

"Namun perkembangan sangat pesat sehingga fintech jenis baru yang lebih detail bermunculan," katanya di Hotel Sari Pacific, Jakarta Pusat, Senin (26/11/2018).


Dia menjelaskan, di Korsel untuk peer to peer lending atau fintech pinjaman online tak ada masalah dengan penagihan. Pasalnya regulator di Korsel sangat ketat mengawasi penyaluran kredit digital ini.

"Bisa dibilang tidak ada masalah pada debt collection. Karena dijaga oleh regulator kan memang sudah ada batasannya. Jadi baik perusahaan atau peminjam tidak boleh melebihi serta harus mengikuti peraturan yang berlaku. Kalau tidak, bisa dihukum," ujarnya.

Dia menjelaskan, memang awalnya citra fintech peer to peer lending di Korsel kurang baik. Namun regulasi berupaya keras untuk memperbaiki citra buruk tersebut.

Di Korsel, bunga pinjaman di fintech dibatasi oleh regulator. Menurut dia untuk mengurangi masalah akibat bunga yang terlalu tinggi, regulator membatasi bunga sebesar 20-24% jika perusahaan memberikan bunga lebih dari itu maka akan mendapatkan teguran hingga sanksi.

"Bunga diatur, kalau ada yang tidak mengikuti ya akan dihukum. Memang batasnya itu 24%, tapi karena banyak kompetitor bunga selalu di bawah 24% jadi lebih rendah," ujarnya.


Ia menambahkan di Korsel saat ini ada sekitar 300-400 fintech dari berbagai jenis operasi yang sudah terdaftar di regulator keuangan di sana.

Sedangkan di Indonesia beberapa bulan terakhir sedang ramai terkait fintech ilegal yang melakukan penagihan yang kasar, hingga bisa mengintip kontak pengguna layanan.

Kemudian masalah bunga, regulator di Indonesia dalam hal ini adalah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) belum mengatur terkait besaran bunga yang diberikan oleh fintech.


Tonton juga 'Ini Sederet Polemik Fintech Tanah Air':

[Gambas:Video 20detik]

Nasabah Fintech di Korsel Tak Diteror Debt Collector Seperti di RI
(kil/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed