Menkeu Tuding Spekulan Sebagai Biang Keladi Turunnya Rupiah
Selasa, 30 Agu 2005 13:56 WIB
Jakarta - Meski bersikap dont't worry be happy, namun anjloknya nilai tukar rupiah membuat Menteri Keuangan Jusuf Anwar prihatin. Ia menuding aksi spekulasi sebagai penyebab melemahnya nilai tukar rupiah. Padahal, dari sisi fiskal dan moneter tidak ada masalah. "Ini purely masalah supply dan demand. Permintaaanya makin banyak. Makin banyak orang yang beli dolar karena harapan-harapan ekspektasi dan ada spekulasi," kata Jusuf di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Kamis (30/8/2005).Jusuf menambahkan, pasar uang dan pasar saham adalah pasar nerve market atau pasar urat syarat. "Orang pidato, harga naik, orang pidato, harga turun. Jadi banyak unsur spekulasi dalam hal ini. Kita akan melakukan berbagai upaya baik dalam maupun luar negeri untuk mengatasi hal ini," ujar mantan Ketua Bapepam ini.Di tempat terpisah, Gubernur BI Burhanuddin Abdullah mengatakan, gejolak nilai rupiah dipicu oleh dua faktor baik eksternal maupun internal. Dari sisi eksternal, tekanan rupiah didorong oleh melonjaknya harga minyak dunia dan adanya gejolak mata uang regional serta meningkatnya premi risiko di emerging market.Dari sisi internalnya, tekanan rupiah ditambah meningkatnya kekhawatiran masyarakat terhadap sustainabilitas fiskal terkait dengan meningkatnya beban subsidi serta kebijakan moneter yang dianggap belum sepenuhnya dapat mengantisipasi tingginya ekspektasi inflasi. Jusuf menambahkan, pemerintah sebagai otoritas fiskal dan Bank Indonesia sebagai otoritas moneter akan terus menjaga rupiah agar tidak terus melemah. Menkeu mengaku prihatin atas perkembangan nilai tukar rupiah. "Saya prihatin dengan perkembangan nilai tukar ini, yang saya anggap melemahnya itu tidak mempunyai alasan-alasan fundamental," tegasnya. Dalam pidato jawaban pemerintah di depan rapat paripurna DPR, Jusuf tetap optimistis rupiah yang kini bergejolak akan kembali stabil dengan kecenderungan menguat pada tahun depan. Hal ini didasarkan pada perkembangan nilai tukar rupiah per dolar AS yang selama Agustus ini telah mencapai sekitar Rp 10.000 diperkirakan masih undervalue. "Untuk itu, asumsi nilai tukar rupiah yang digunakan dalam RAPBN 2006 sebesar Rp 9.400 masih dalam batas yang wajar meskipun angka yang optimis," ujarnya.Sementara Burhanuddin menegaskan, BI akan melakukan pemantauan secara terus menerus terhadap indikator-indikator ekonomi baik eksternal maupun internal. Hasil pemantauan tersebut akan digunakan untuk menyesuaikan langkah-langkah kebijakan berikutnya hingga situasi normal. Mengenai batasan situasi normal, Deputi Gubernur Senior BI Miranda S Goeltom menegaskan bahwa batas normal hendaknya tidak diartikan sebagai angka-angka mati belaka. "Namun harus diartikan sebagai sesuatu yang punya makna. Artinya, perekonomian yang tekanan inflasinya tidak lebih dari apa yang seharusnya. Normal juga berarti nilai tukar dalam negerinya tidak mengalami pelemahan yang berlebih-lebihan," ujarnya.
(qom/)











































