NPL Bank Mandiri 'Sembuh' 2007

Usul Bentuk Joint Venture

NPL Bank Mandiri 'Sembuh' 2007

- detikFinance
Rabu, 31 Agu 2005 12:45 WIB
Jakarta - Kredit bermasalah (NPL) PT Bank Mandiri Tbk diperkirakan baru bisa ditekan di bawah 5 persen untuk NPL netto dan di bawah 10 persen untuk NPL gross pada akhir tahun 2007.Sampai akhir tahun 2005, NPL Bank Mandiri diperkirakan baru bisa turun di bawah 20 persen. Pada semester I-2005, Bank Mandiri mencatat NPL gross 24,6 persen dan NPL netto 15,4 persen.Hal tersebut disampaikan Managing Director and Senior Vice Presiden Treasury dan International Bank Mandiri JB Kendarto dalam jumpa pers di Kantor Pusat Bank Mandiri, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (31/8/2005).Kendarto menjelaskan, selama semester I-2005, NPL Bank Mandiri bertambah Rp 18,6 triliun dari posisi Desember 2004 hingga menjadi Rp 25,2 triliun. Dari jumlah tersebut, 75 persen berasal dari kredit macet 30 obligor yang sedang ditangani saat ini. Untuk menangani masalah kredit bermasalah ini, Bank Mandiri sudah melakukan sejumlah aksi dan identifikasi terutama pada 30 obligor yang menjadi fokus dan piriorias penanganan. Selain itu, Bank Mandiri akan mengusulkan pembentukan perusahaan joint venture yang khusus menangani masalah kredit macet. Nantinya joint venture ini akan menjadi unit-unit terpisah dari Bank Mandiri yang akan fokus ke pengembangan bisnisnya. "Namun pembentukan joint venture ini masih harus mendapat persetujuan dari pemerintah," ujarnya.Hinga semester I-2005, Bank Mandiri telah menyerahkan kredit macet ke DJPLN sebanyak 34 debitor. Utang pokok dalam rupiah yang dialihkan ke DJPLN mencapai Rp 2,34 triliun, namun saat ini sudah berkurang menjadi Rp 2,28 triliun. Sedangkan utang pokok dalam dolar sebesar US$ 226,9 juta telah berkurang menjadi US$ 225,78 juta. "Untuk tahun 205 kita tidak akan melakukan write off karena baru akan dilaksanakan pada tahun 2006. Write off hanya dikecualikan untuk consumer loan seperti kartu kredit," ujar Kendarto.Ia juga menjelaskan, melemahnya rupiah akan mempengaruhi kenaikan NPL. Pasalnya dari perhitungan yang dilakukan, jika rupiah menembus Rp 11.500 per dolar AS, maka potensi NPL bisa naik 10 persen. Suku BungaKoordinator Manajemen Risiko Bank Mandiri Sentot A. Sentausa mengatakan, kenaikan SBI bisa menurunkan pendapatan bunga bersih karena beban yang dikeluarkan akan semakin besar. Dicontohkan, setiap kenaikan 1 persen SBI, maka akan terjadi penurunan pendapatan bunga bersih 0,05 persen.Kebnaikan SBI juag berpotensi menaikkan NPL karena beban debitor bertambah. "Sekarang kita sedang melakukan stress test dari suku bunga BI rate 9,5 persen hingga 12 persen untuk melihat pengaruh langsung ke tingkat kredit dan cost of fund," kata Sentot.Bank Mandiri juga akan melajukan penyesuaian atas kenaikan BI rate 9,5 persen. Kenaikan akan diterapkan sekitar 0,5 hingga 1 persen, terutama untuk kredit korporasi dan komersial, kecuali untuk kredit UKM.Saat ini rata-rata lending rate sebesar 12,5-13 persen. Dengan adanya kenaikan ini, rata-rata lending rate bisa mencapai 13-14 persen. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads