Miskomunikasi Pejabat BI Salah Satu Pemicu Anjloknya Rupiah

Miskomunikasi Pejabat BI Salah Satu Pemicu Anjloknya Rupiah

- detikFinance
Sabtu, 03 Sep 2005 14:12 WIB
Jakarta - Salah satu penyebab melemahnya nilai tukar rupiah adalah adanya salah komunikasi alias miskomunikasi antarpejabat Bank Indonesia soal target rupiah.Hal tersebut disampaikan Ketua Masyarakat Profesional Madani (MPM) Ismed Hasan Putro dalam diskusi di Marios Place, Menteng, Jakarta, Sabtu (3/9/2005).Menurut Ismed, miskomunikasi itu terlihat dari perbedaan pernyataan antara Gubernur BI Burhanuddin Abdullah dan Deputi Gubernur Senior BI Miranda S Goeltom soal nilai tukar rupiah.Ketika itu, Miranda menyatakan bahwa saat ini sulit untuk membawa nilai tukar rupiah di bawah level Rp 9.800 per dolar AS. Sementara Burhanuddin menyatakan bahwa BI akan berupaya membawa nilai tukar rupiah di level Rp 9.400 per dolar AS."Dari situ, pasar mendapat sinyal adanya miskomunikasi antara pejabat BI," kata Ismed.Masalah miskomunikasi dan ditambah persoalan BBM itulah yang menurut Ismed menjadi pemicu melemahnya rupiah. "Jadi ada komplikasi antara dua hal itu," ujarnya.Di tempat terpisah, pengamat pasar modal Dandossi Matram mengatakan, nilai tukar rupiah baru akan stabil bila suku bunga SBI dinaikkan ke level 13-14 persen. Menurut Dandossi, pelemahan rupiah merupakan konsekuensi dari sistem devisa bebas yang diterapkan Indonesia. Dengan demikian, ketika rupiah melemah, maka yang bisa dilakukan adalah dengan mengurangi jumlah uang beredar. "Dan cara untuk mengurangi uang beredar adalah dengan menaikkan suku bunga sehingga suku bunga akan terus merangkak naik," ujar Dandossi.Pada pekan ini, lanjut Dandossi, pemerintah dan BI telah mengeluarkan paket kebijakan yang dimaksudkan untuk memperkuat rupiah. Namun menurutnya, kegiatan pasar sebetulnya tidak bergerak atau tidak bekerja dengan apa adanya. Hal itu dikarenakan di dalam pasar uang masih ada intervensi BI yang terus dilakukan untuk mempertahankan rupiah. "Artinya nilai real rupiah di pasar adalah nilai artifisial dari intervensi," ujarnya.BI LeletIsmed juga menyebut BI sangat lelet dalam menahan laju pelemahan rupiah. Dengan melemahnya rupiah yang tidak terkontrol, lanjut Ismed, menyebabkan transaksi valas bisa dilakukan dengan mudah yang menyebabkan adanya kejahatan valas seperti ditengarai Presiden SBY.Presiden SBY menengarai adanya kejahatan valas sebeasr Rp 100 miliar. Presiden sudah memerintahkan Kapolri untuk menyelesaikan masalah tersebut. "Itu sebenarnya masalah usang dan jumlahnya tidak signifikan," kata Ismed.Tidak signifikannya jumlah itu mengingat total transaksi valas dunia bisa mencapai US$ 1 triliun. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads