'Sakitnya' Rupiah Takkan Tulari Mata Uang Negara Tetangga
Senin, 05 Sep 2005 12:00 WIB
Jakarta - 'Sakitnya' nilai tukar rupiah diyakini tidak akan menulari mata uang negara tetangga. Pelemahan rupiah juga tidak akan memicu kembali ledakan krisis ekonomi di Asia seperti yang terjadi pada tahun 1997-1998.Demikian rangkuman pernyataan dari para bankir internasional dan ahli keuangan seperti dilansir AFP, Senin (5/9/2005).Dana Moneter Internasional (IMF) dan juga Asian Development Bank (ADB) memberi jaminan bahwa nilai tukar rupiah masih bisa dikendalikan dan kawasan ini sudah memiliki posisi yang lebih kuat untuk menahan guncangan keuangan. Nilai tukar rupiah pada pada pekan lalu menembus level terendah dalam empat tahun terakhir yakni pada level Rp 11.700 per dolar AS. Pada krisis ekonomi tahun 1998, rupiah menyentuh level terendah dalam sepanjang sejarah Indonesia di level Rp 16.800 per dolar AS.Krisis ekonomi Indonesia ketika itu merupakan imbas dari ambruknya mata uang Thailand pada Juli 1997. Rupiah menjadi mata uang yang paling parah keterpurukannya ketika itu. Sehingga anjloknya rupiah saat ini menimbulkan kecemasan para pelaku pasar akan terulangnya krisis keuangan di Asia. Keterpurukan rupiah pada tahun 1997-1998 juga memaksa Indonesia harus mengundang 'dokter IMF' untuk menyuntik dana segar. Keputusan itu sendiri akhirnya disesali setelah IMF mengakui telah memberi resep yang salah untuk Indonesia. "Saya tidak berpikir akan ada risiko penularan atau apa pun yang menyerupainya pada saat ini, karena fundamental ekonomi Indonesia sudah meningkat cukup baik dalam beberapa tahun terakhir," kata Presiden ADB Haruhiko Kuroda.Kuroda juga memuji konsolidasi fiskal Indonesia telah menunjukkan perbaikan yng sangat berarti. "Sektor keuangan juga telah menguat dan beberapa reformasi struktural telah dilakukan, termasuk memotong subsidi BBM," ujar Kuroda. Direktur Pelaksana IMF Rodrigo Rato juga menepis ketakutan anjloknya rupiah akan memicu krisis keuangan Asia. Rato meyakinkan, perekonomian Indonesia saat ini lebih sehat dibandingkan delapan tahun silam."Faktanya, ekonomi Indonesia berdiri pada kaki yang kokoh. Dan kami percaya bahwa hal itu akan bisa memecahkan masalah-masalah yang sebenarnya," ujar Rato.Ia juga berharap Bank Indonesia menerapkan kebijakan moneter yang jelas dan transparan serta mengimplementasikan resformasi struktural. Sementara Deputi Managing Director Monetary Authority of Singapore (MAS) Tharman Shanmugaratnam mengatakan, perkembangan Indonesia akan selalu memberi dampak pada negara tetangga. "Namun kami tidak cemas pada saat ini karena kami benar-benar percaya bahwa pemerintah Indonesia akan dapat membangun kembali kepercayaan terhadap mata uangnya," kata Shanmugaratnam.Gubernur Bank Sentral Malaysia Zeti Akhtar Aziz di Kuala Lumpur yakin Malaysia dan kawasan Asia Tenggaran lainnya tidak tertulari virus melemahnya rupiah.
(qom/)











































