Redam Redemption Reksa Dana, BI Buy Back SUN Rp 3 Triliun
Selasa, 06 Sep 2005 19:07 WIB
Jakarta - BI terus memonitor redemption reksa dana. Untuk meredamnya, BI hari ini telah membeli kembali atau buy back surat utang negara (SUN) senilai Rp 3 triliun. BI membeli empat seri SUN yakni FR002, FR004, FR005 dan FR020."Kemarin kita umumkan target kita Rp 3 triliun. Ini tidak lain bahwa kita sangat concern dengan terjadinya redemption," kata Deputi Gubernur BI Aslim Tadjudin di Gedung BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Selasa (6/9/2005).Pembelian kembali SUN ini dilakukan BI juga dalam rangka building stock yang akan dijadikan sebagai salah satu instrumen moneternya dalam operasi pasar terbuka.Dalam kesempatan terpisah, Presdir Mandiri Investasi Abi Prayadi Riyanto mengusulkan agar pemerintah bisa menjadi standby buyer untuk meningkatkan harga obligasi. Dengan demikian supply and demand terhadap obligasi bisa kembali diseimbangkan dan reksa dana bisa kembali normal."Pemerintah melalui BI atau Depkeu bisa menjadi standby buyer untuk menyerap obligasi di pasar," kata Abi.Menurut Abi, kewajiban pemerintah juga akan berkurang bila menjadi standby buyer. Hal ini karena obligasi yang ada di pasar dibeli sendiri oleh pemerintah dengan harga murah. "Pemerintah yang mengeluarkan obligasi. Kalau pemerintah membeli kembali dengan harga murah, kewajibannya jadi mengecil," ujar Abi.Ditambahkannya, kondisi pasar obligasi yang tengah terpuruk akan normal kembali melalui mekanisme pasar. Menurutnya, akan ada satu titik dimana harga obligasi akan menjadi sangat murah sehingga permintaan naik dan harga juga meningkat. "Investasi itu ada cycle up and down. Ada satu level dimana instrumen sudah sangat murah misalnya FR004, sekarang bisa kasih yield 20 persen. Itu sudah murah sekali. Di titik ini orang akan beli, dan harga naik lagi," urai Abi.Namun saat ini titik tersebut belum tercapai. "Belum bottom-nya, tapi close to bottom. Entah kapan bottom-nya. Itu tergantung pemerintah bisa membangun persepsi bahwa kita bisa survive," ujarnya.Saat ini hampir semua investor sudah pada posisi fully invested sehingga tidak memiliki likuiditas lagi. "Keadaan ini membuat investor sulit untuk membeli obligasi yang ada di pasar dan harganya sudah murah," ujar Abi.Vice President Marketing and Product Develoment Mandiri Investasi Denny R. Taher mengatakan, sejak awal tahun pihaknya sudah kehilangan dana yang dikelola sebesar Rp 24 triliun. Hal itu disebabkan karena Mandiri Investasi menerapkan nilai aktiva bersih (NAB) yang marked to market. Harga obligasi langsung terasa di NAB dan dilaporkan ke investor. "Kalau jelek ya dibilang jelek. Tapi prinsipnya kita bisa memenuhi kewajiban," tambahnya.Saat ini dana yang dikelola oleh Mandiri Investasi Rp 600 miliar. Abi juga mengkritik tindakan banyak perusahaan sekuritas yang menyuruh investornya untuk melakukan redemption. Menurutnya, gelombang redemption memang tidak bisa ditahan, tapi investor memiliki hak sepenuhnya terhadap dana investasi.Perusahaan sekuritas harusnya membeberkan fakta tentang kondisi pasar tanpa menyarankan aksi redemption. "Kita kasih faktanya. Biarkan mereka yang berpikir. Itu kan uang mereka," ujar Abi.
(qom/)











































