SBY: Suku Bunga akan Naik Terus

Untuk Kuatkan Kurs Rupiah

SBY: Suku Bunga akan Naik Terus

- detikFinance
Jumat, 16 Sep 2005 10:58 WIB
Jakarta - Tingkat suku bunga di Indonesia akan terus dinaikkan sepanjang diperlukan untuk menguatkan nilai tukar rupiah. Sementara tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2005 diperkirakan mencapai 5,5 persen. "Untuk menguatkan rupiah, kami akan terus menaikkan suku bunga jika diperlukan," ujar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat berbicara dalam Indonesia Global Investment Forum di New York seperti dilansir Reuters, Jumat (16/9/2005).Tingkat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,5 persen tersebut merupakan revisi dari target semula sebesar 6 persen. "Perekonomian kami tetap tumbuh secara sehat sebesar 5,1 persen pada tahun lalu. Kami berharap pertumbuhan ekonomi bisa meningkat menjadi 5,5 persen pada tahun ini, dan mencapai rata-rata 6,6 persen dalam lima tahun ke depan," ujar SBY. Namun SBY mengakui bahwa ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi pemerintah Indonesia untuk mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi tersebut yakni tingginya harga minyak dunia dan menguatnya dolar AS.Untuk mencapai target pertumbuhan pada tahun-tahun mendatang, kata SBY, pemerintah akan mengandalkan penanaman modal asing (PMA) terutama di bidang industri intensifikasi industri. "Kami tengah mempertimbangkan untuk membuat penaman modal asing sebagai agen untuk pertumbuhan ekonomi kami," kata SBY.Menurut SBY, untuk mencapai rata-rata pertumbuhan ekonomi hingga 6,6 persen hingga tahun 2006, maka diperlukan PMA sebesar US$ 120 miliar. Presiden SBY dalam pidato nota keuangan 16 Agustus lalu pernah mengingatkan bahwa kenaikan suku bunga dapat mengganggu pertumbuhan ekonomi. Menurut SBY, kenaikan suku bunga tersebut akan berdampak pada peningkatan beban utang pemerintah serta kemungkinan memperlambat momentum pertumbuhan ekonomi. Promosikan Indonesia di NYSEPresiden SBY sebelumnya mengunjungi bursa saham New York atau New York Stock Exchange (NYSE). SBY yang didampingi Menko Perekonomian Aburizal Bakrie, Menlu Hassan Wirajuda dan Seskab Sudi Silalahi, disambut oleh Direktur Utama NYSE, Marshall N Carter, dan Wakil Presiden NYSE, Richard A Adomonis.Setelah menekan tombol bel tanda dibukanya perdagangan saham di NYSE sekitar Kamis (15/9/2005) pukul 09.30 waktu setempat, Presiden SBY meninjau kegiatan pasar modal di salah satu bursa terbesar dunia itu.Dalam pidatonya, SBY mempromosikan kepada para investor asing itu bahwa Indonesia cukup menjanjikan dan menarik. SBY juga mengatakan, Bursa Efek Jakarta (BEJ) saat ini merupakan salah satu pasar modal berkinerja terbaik di dunia, berdasarkan persentase pertumbuhan harga saham, kapitalisasi pasar, dan nilai perdagangan.Namun gejolak harga minyak dan melemahnya rupiah membuat BEJ kembali melemah seperti juga pasar modal yang lainnya. Namun menurut SBY, kini BEJ mulai pulih kembali."Saya dapat meyakinkan Anda bahwa pasar Indonesia masih menjanjikan dan salah satu pasar yang paling menarik di mana Anda dapat melakukan investasi," ujar SBY berpromosi. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads