Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 21 Feb 2019 09:33 WIB

BI Tahan (Lagi) Bunga Acuan?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: Sylke Febrina Laucereno/detikFinance Foto: Sylke Febrina Laucereno/detikFinance
Jakarta - Bank Indonesia (BI) hari ini akan mengumumkan hasil rapat dewan gubernur (RDG) periode Februari 2019. Suku bunga acuan akan menjadi salah satu instrumen kebijakan yang diumumkan.

Ekonom PermataBank Josua Pardede menjelaskan BI bulan ini diprediksi akan kembali mempertahankan suku bunga kebijakan di level 6%.

Menurut dia RDG bulan ini akan mempertimbangkan kestabilan nilai tukar rupiah yang mendukung terkendalinya ekspektasi inflasi.

"BI diperkirakan kembali mempertahankan bunga acuan bulan ini," kata Josua saat dihubungi, Kamis (21/2/2019).

Dia menjelaskan stabilitas nilai tukar rupiah juga ditopang oleh ekspektasi kebijakan bank sentral AS yang lebih dovish mempertimbangkan tren penurunan beberapa data ekonomi seperti pertumbuhan penjualan ritel dan laju produksi industri kenaikan inflasi kurang dari 2% (target bank sentral AS).

"Sementara dari perspektif domestik, stance kebijakan moneter BI yang masih tight bias ditujukan untuk memastikan defisit transaksi berjalan mengecil ke arah -2,5% terhadap PDB pada tahun ini," ujarnya.



SVP Chief Economist BNI Ryan Kiryanto mengatakan dalam Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) pada 21 Februari 2019 diperkirakan masih akan menahan suku bunga acuan di level 6%. Ini sesuai dengan stance policy BI dan Kemenkeu yg senada, yaitu stability over growth. Artinya, untuk 2019 ini spirit BI dan pemerintah adalah mendahulukan stabilitas, baru kemudian pertumbuhan.

Namun sebenarnya BI memiliki dua pilihan untuk kebijakan suku bunga yakni menurunkan 25 bps menjadi 5,75% atau menahan di level 6%.

"Tapi pilihan paling rasional dan strategis adalah BI tetap menahan bunga acuan di level 6% untuk memprioritaskan stabilitas ketimbang pertumbuhan," jelas Ryan.

Kemudian, sebab lainnya adalah tensi ketegangan AS dan China terkait perang dagang belum mereda dan Brexit juga masih menghantui perekonomian global sehingga berpotensi mengganggu pasar keuangan domestik.

Ryan menjelaskan saat ini kondisi makroekonomi domestik yang stabil dan positif (berdasarkan capaian kinerja 2018: ekonomi tumbuh 5,17%; inflasi rendah 3,13% dan current account deficit stabil 2,98% of PDB) serta tensi kebijakan The Fed di 2019 yang cenderung dovish (longgar) dibanding 2018 yang hawkish (ketat). Bahkan jika melihat arah inflasi yg melandai seiring penurunan harga BBM, termasuk avtur, dan penurunan tarif listrik golongan bawah (900 dan 1.200 VA).

(kil/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com