Menkeu Berbagi Tips Reksa Dana
Selasa, 20 Sep 2005 11:24 WIB
Jakarta - Kerugian para nasabah reksa dana membuat Menkeu Jusuf Anwar prihatin. Ia pun memberikan sejumlah tips bagi investor reksa dana. Simak saja tips dari mantan Ketua Bapepam ini.Investor reksa dana antara lain harus punya urat syaraf yang kuat. Pasalnya, kata Jusuf, pasar reksa dana bisa berbalik arah secara cepat. "Jika gagal dalam berbisnis bisa-bisa naik ke atas loteng kemudian terjun langsung dengan kepala di bawah," ujar Jusuf saat menjadi pembicara dalam seminar bertajuk 'Pasar Reksa Dana Indonesia dalam Persepektif International' di Hotel Shangri-La, Jakarta, Selasa (20/9/2005).Ia juga mengingatkan, investasi reksa dana merupakan investasi yang berisiko. Menurutnya, investor reksa dana harus mengerti risiko dan return, profil dari instrumen reksa dana, terutama terhadap yang ditawarkan secara gencar oleh manajer investasi. "Jadi jangan hanya ikut-ikutan atau karena adanya iming-iming imbal hasil yang tinggi," tegas Jusuf. Jusuf pun juga mengingatkan bahwa reksa dana merupakan produk investasi jangka panjang dan berbeda, misalnya dengan investasi di pasar uang. "Ini karena reksa dana jatuh temponya lebih dari satu tahun," tambahnya. Ia menilai, sangat tepat bagi investor jangka panjang menanamkan investasinya di reksa dana. "Tidaklah tepat bagi investor untuk memilih produk jangka panjang untuk keperluan jangka pendek. Jadi jangka waktu investasi harus disesuaikan dengan karakteristik produk investasi yang akan dipilih," papar Jusuf.Salah satu reksa dana yang dinilai Menkeu cukup baik adalah reksa dana syariah. "Angka-angka membuktikan bahwa reksa dana syariah itu tahan banting," ujarnya.Namun demikian, Jusuf mengaku dirinya tidak bisa memaksa manajer investasi mengeluarkan reksa dana syariah ini. "Itu tergantung pasar. Kita tidak bisa menyuruh-nyuruh, itu tergantung player. Karena akhirnya juga ini masalah supply dan demand," kata Jusuf Anwar.
(qom/)











































