BBM Naik 40%, Inflasi Akhir Oktober Tembus Dua Digit

BBM Naik 40%, Inflasi Akhir Oktober Tembus Dua Digit

- detikFinance
Kamis, 22 Sep 2005 13:31 WIB
Jakarta - Jika pemerintah jadi menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) sebesar 40 persen pada awal Oktober ini, inflasi pada akhir Oktober diprediksi tembus 10,56 persen. Melonjaknya inflasi ini sebagai dampak naiknya harga barang dan transportasi."Dari hitungan yang ada, kalau harga BBM naik 40 persen, maka inflasi akhir Oktober bisa mencapai 10,56 persen," kata Chief Economist Bank International Indonesia Ferry Latuhihin ketika dihubungi detikcom, Kamis (22/9/2005).Namun, melonjaknya inflasi sampai dua digit ini tidak akan berlangsung lama. Setelah ada penyesuaian harga yang mengikuti harga BBM, Ferry melihat inflasi akan kembali turun. Sehingga secara keseluruhan di tahun 2005 masih satu digit.Ferry memperkirakan inflasi year on year (YoY) dari Januari sampai Desember 2005 sebesar 9,5 persen, lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun sebelumnya 6,4 persen. Sedangkan dari data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi dari Januari sampai Agustus 2005 telah mencapai 5,66 persen.Suku BungaNaiknya inflasi juga akan diikuti oleh naiknya suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) oleh BI. Menurut Ferry, batas kenaikan tertinggi SBI yang masih masuk akal (reasonable) sampai batas 10,5 persen."Selama ini kenaikan SBI itu untuk menahan laju rupiah terhadap dolar. BI masih punya ruang untuk menaikkan 50 basis pon lagi, kalau di atas itu tidak lagi efektif dan bisa mengganggu pasar," ujar Ferry.Saat ini BI masih bertahan pada tingkat suku bunga sebesar 10 persen untuk SBI satu bulan. Kenaikan bunga the fed yang sekarang di level 3,75 persen, menurut Ferry, tidak harus selalu disikapi dengan ikut-ikutan menaikkan SBI."The Fed menaikkan suku bunga karena real interest rate antara inflasi dan suku bunga masih sangat kecil. Dengan suku bunga the fed sekarang 3,75 persen dikurangi inflasi AS 3,5 persen real interest rate sangat kecil hanya 0,5 persen, sehingga sulit menarik orang untuk melakukan investasi," papar Ferry.Namun untuk Indonesia, lanjut Ferry, kondisi real interest rate masih cukup baik. Dengan suku bunga sebesar 10 persen dan inflasi YoY Agustus 8,33 persen masih ada ruang sebesar 1,67 persen. Angka yang masih cukup menarik bagi pemilik dana, bila dibandingkan dengan negara lain yang real interest rate sangat kecil, bahkan sebagian sudah negatif. (ir/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads