Follow detikFinance Follow Linkedin
Sabtu, 23 Mar 2019 14:35 WIB

Rupiah Masih Terseok-seok, Ini Penyebabnya

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: Zaki Alfarabi Foto: Zaki Alfarabi
Yogyakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami pergerakan yang cukup volatile. Saat ini nilai tukar dolar AS berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) masih tercatat di level Rp 14.157.

Mata uang garuda ini memang sempat bergejolak pada 2018 lalu hingga menyentuh Rp 15.000-an namun kembali menguat pada awal tahun ini.

Kepala Ekonom PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Rian Kiryanto menjelaskan hal tersebut terjadi karena aliran modal asing terus masuk ke Indonesia. Namun aliran modal ini tidak sederas di negara lain.

"Makanya rupiah sulit menguat signifikan. Jika dilihat dari aliran modal asing langsung yang masuk, Indonesia hanya 2% ke 2,1% terhadap produk domestik bruto (PDB), jauh dari negara lain," kata Rian dalam pelatihan wartawan di Hotel Marriott Yogyakarta, Sabtu (23/3/2019).

Dia mencontohkan di Thailand, dana asing masuk ke negaranya mencapai 2,5% terhadap PDB di tahun lalu, meningkat dari 2017 yang hanya 1,8% terhadap PDB.

Begitu juga dengan Vietnam yang aliran asing masuk ke negaranya mencapai 6,5% terhadap PDB d 2018, meningkat dari tahun sebelumnya 6,5% terhadap PDB.



Negara yang dana asingnya turun hanya Malaysia, yakni dari 3,0% di 2017 menjadi 2,1% di 2018.

"Tetangga itu membesar juga. Kita harusnya bisa lebih besar, kita sudah investment grade, harusnya lebih besar dari ini," jelasnya.

Meski demikian, Ryan menuturkan masih ada sejumlah permasalahan di ekonomi Indonesia, salah satunya ekspor dan defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD). Adapun CAD Indonesia sepanjang tahun lalu mencapai US$ 31,1 miliar arau 2,98% terhadap PDB.

"Kalau yang lainnya sudah bagus, nah CAD-nya saja yang jelek. Ini yang harus diperbaiki bersama," tambahnya.

Bank sentral sebelumnya mencatat, dana asing masuk ke Indonesia sejak awal tahun ini hingga 6 Maret 2019 mencapai Rp 59,9 triliun. Aliran tersebut masuk ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 50,2 triliun dan saham sebesar Rp 10,5 triliun.

Sementara itu aliran modal asing yang masuk di tahun ini jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Perry bilang, sejak awal tahun lalu hingga 6 Maret 2018 justru terjadi arus asing keluar (outflow) sebesar Rp 9,9 triliun.

Rupiah Masih Terseok-seok, Ini Penyebabnya
(kil/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com