Bank Indonesia:
BBM Naik, Inflasi Lebih dari 9%
Rabu, 28 Sep 2005 13:51 WIB
Jakarta - Bank Indonesia (BI) memperkirakan inflasi bisa mencapai lebih dari 9 persen menyusul kenaikan harga BBM 1 Oktober mendatang. Saat ini saja laju inflasi telah mencapai 8,3 persen.Naiknya kebutuhan masyarakat pada Lebaran, Natal dan Tahun Baru juga akan memicu kemungkinan inflasi di atas 8,3 persen. BI yang kini mematok BI rate hingga 10 persen, sejak beberapa minggu lalu telah memperkirakan inflasi tahun 2005 mencapai 9 persen.Demikian diungkapkan oleh Deputi Gubernur Senior BI Miranda Goeltom di sela acara seminar yang berlangsung di Hotel Borobudur, Jl Lapangan Banteng, Jakarta, Rabu (28/9/2005)."Inflasi tergantung berapa persen kenaikan harga BBM, angka 9 persen inflasi BI itu belum memasukkan komponen harga BBM. Dengan adanya kenaikan harga BBM, inflasi bisa lebih dari itu," kata Miranda.Menurutnya, bila terjadi kenaikan inflasi, maka BI akan meresponsnya dengan menaikkan suku bunga yang memakai benchmark suku bunga adalah BI rate. Tujuannya untuk menjaga real interest rate cukup menarik."Tidak usah terlalu besar, tapi jangan sampai terlalu kecil, sehingga orang tidak tertarik memegang rupiah. Kalau inflasi naik, maka real interest rate akan turun," tutur Miranda.BI, menurutnya, akan melakukan kebijakan yang cenderung ketat untuk menjaga tekanan inflasi. Perhitungan BI, ujar Miranda, kenaikan harga BBM ini akan mengakibatkan inflasi first round effect 0,2 persen dan second round effect 0,3 persen.Miranda menjelaskan, untuk first round effect ini tidak bisa terelakkan. Maka itu BI akan berupaya menekan inflasi pada second round effect."Sehingga second round effect bisa dikurangi, second round effect tidak bisa dihilangkan sama sekali, tapi bisa diminimalkan dengan melakukan kebijakan moneter yang ketat. Kalau dilihat tren, persepsi inflasi bisa dipengaruhi kebijakan moneter," papar Miranda.Diakui, kenaikan harga BBM ini sulit dihindari, mengingat harga minyak internasional yang cenderung naik terus. "Sekarang saja kenaikannya hampir 100 persen dibanding tahun lalu, jadi ini sesuatu yang tidak bisa dihindari," kata Miranda.
(ir/)











































