Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 22 Apr 2019 12:42 WIB

Hati-hati Jebakan DP Murah, Cicilan Kendaraan Bisa Lebih Mahal

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Ilustrasi/Foto: Sylke Febrina Laucereno/detikFinance Ilustrasi/Foto: Sylke Febrina Laucereno/detikFinance
Jakarta - Suku bunga kredit kendaraan bermotor diprediksi mengalami peningkatan pada kuartal II tahun ini. Hal ini karena biaya dana di perbankan tercatat mengalami peningkatan.

Meskipun saat ini bank sentral sudah memberikan kelonggaran uang muka (down payment/DP) untuk kredit kendaraan bermotor. Namun, jika bunga yang diberlakukan tinggi, bagaimana dengan cicilannya?

Perencana keuangan dari Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andy Nugroho menjelaskan saat ini praktiknya di bank maupun perusahaan pembiayaan, jika uang muka yang dibayarkan lebih murah maka ada cicilan yang lebih tinggi karena bunga yang juga tinggi.

"Betul, kalau DP rendah, kompensasinya adalah cicilan yang tinggi karena bunga," ujar Andy saat dihubungi detikFinance, Senin (22/4/2019).


Menurut Andy jika memang terpaksa mengambil kredit kendaraan, bisa diusahakan dengan membayar uang muka yang lebih tinggi agar mendapatkan cicilan yang lebih rendah. Saat ini DP yang dibayar maksimal oleh konsumen mencapai 60% dari harga kendaraan.

"Jadi memang harus teliti juga, jika memang mencicil kendaraan adalah keharusan, juga harus disiapkan dana rutin setiap bulan," kata dia.

Ekonom INDEF Bhima Yudhistira Adhinegara menjelaskan suku bunga kredit memang akan mengalami kenaikan pada kuartal II-2019. Hal ini karena adanya peningkatan biaya dana perbankan yang akhirnya mempengaruhi bunga kredit.

Bhima menjelaskan, termasuk kredit kendaraan bermotor karena jenis kredit tersebut memiliki risiko macet yang lebih besar.

"Karena barang bergerak risiko macetnya lebih besar dibanding properti," ujar Bhima.

Dia mengungkapkan bank memang tak mau jor-joran dalam menyalurkan kredit kendaraan ini. "Meski ada kelonggaran down payment (DP) atau uang muka, bank lebih rasional menahan ekspansi kredit baru," ujar Bhima.


Dari data survei perbankan Indonesia BI jenis kredit konsumsi, kenaikan suku bunga terjadi pada kredit kendaraan bermotor yang naik 3 basis poin dan bunga kartu kredit naik 1 basis poin. Sementara itu untuk kredit kepemilikan rumah atau apartemen hingga kredit multiguna diprakirakan turun.

Kemudian disebutkan juga suku bunga kredit investasi justru diprakirakan turun 4 basis poin menjadi 11,51%.

Data BI juga menyebutkan pada 2019 pertumbuhan kredit diprediksi tumbuh 11,6% lebih rendah dibandingkan periode 2018 sebesar 12,1%. Pertumbuhan ini sejalan dengan optimisme menguatnya pertumbuhan ekonomi tahun 2019 dan relatif rendahnya risiko penyaluran kredit. (kil/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed