Standard Chartered Naikkan Prediksi Inflasi Jadi 12 Persen
Selasa, 04 Okt 2005 14:42 WIB
Jakarta - Standard Chartered Bank (SCB) menaikkan perkiraan inflasi Indonesia pada tahun 2005 dari semula 9,5 persen menjadi 12 persen. Revisi target inflasi tersebut terutama dipicu oleh kenaikan harga BBM. "Keputusan pemerintah menaikkan harga BBM yang cukup tinggi akan membuat terjadinya penyesuaian inflasi pada kuartal empat 2005. Namun untuk tahun berikutnya inflasi diperkirakan akan mereda, karena tingginya harga BBM akan membuat pemakaian sedikit lebih rendah," kata ekonom SCB Fauzi Ichsan dalam penjelasan tertulis yang diterima detikcom, Selasa (4/10/2005).Meningkatnya inflasi juga akan membuat Bank Indonesia (BI) menaikkan BI rate dari 10 persen menjadi 11,5 persen. Ichsan memperkirakan BI rate akan kembali naik pada kuartal satu 2006 menjadi 12 persen. Namun pada kuartal dua dan tiga 2006, BI rate diprediksi akan turun masing-masing ke level 11 persen dan 10 persen.Dampak kenaikan BBM yang hanya terjadi sekali, karena merupakan administrative price akan membuat rupiah kembali menguat. Nilai tukar rupiah pada akhir tahun 2005 bisa mencapai level Rp 9.700 per dolar AS. Penguatan rupiah akan kembali berlangsung pada kuartal 1,2 dan 3 tahun 2006 yang masing- masing ke level Rp 9.600, Rp 9.500 dan Rp 9.400.Begitupula dengan tingkat imbal hasil (yield) surat utang negara (SUN) untuk jangka waktu lima tahun, pada kuartal IV-2005 dperkirakan mencapai 14,75 persen. Puncaknya akan kembali naik pada kuartal satu 2006 sebesar 15 persen. Selanjutnya yield SUN cenderung turun pada kuartal dua 2006 sebesar 13,75 persen dan kuartal tiga 2006 sebesar 12,275 persen."Kestabilan makro ekonomi akan mulai terlihat pada semester satu tahun 2006 karena masalah infalsi dan suku bunga sudah mulai teratasi," ujar Ichsan.Mengenai dampak bom Bali II, Ichsan menilai, ini hanya akan berpengaruh sedikit pada perekonomian Indonesia. Karena pariwisata hanya menyumbang sebesar 2,5 persen dari total PDB. Dampak BBM menurutnya, lebih besar pengaruhnya ketimbang bom Bali II. Sedangkan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih akan didorong oleh konsumsi domestik yang mencapai 68 persen dan sisanya 24 persen karena adanya investasi langsung."Meskipun pemerintah menargetkan petumbuhan ekonomi 2005 sebesar 5,8 persen, namun kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2005 hanya sebesar 5,5 persen dan 2006 sebesar 5,7 persen," ujar Ichsan.
(ir/)











































