Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 16 Mei 2019 17:15 WIB

BI Ubah Prediksi Defisit Transaksi Berjalan Melebar hingga 3%

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: Rachman Haryanto Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Bank Indonesia (BI) memprediksi angka defisit neraca transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) di kisaran 2,5%-3% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Padahal sebelumnya BI memprediksi CAD ada di level 2,5% terhadap PDB. Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan proyeksi BI dilakukan karena kondisi global yang makin penuh tekanan.

Perry menyebut dengan proyeksi kisaran 2,5-3% pemerintah dan BI tetap berupaya untuk mengurangi defisit tersebut. "CAD diproyeksi menjadi di kisaran 2,5-3%, kondisi global makin berat untuk mendorong ekspor. Sehingga kami realistis memperbarui CAD jadi 2,5-3%," kata Perry dalam konferensi pers di Gedung BI, Jakarta, Kamis (16/5/2019).

Dia menyampaikan, pertumbuhan ekonomi kini sulit ditopang oleh ekspor. Hal ini juga terjadi karena perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China berdampak ke seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Untuk mendorong ekspor, pemerintah saat ini terus melakukan upaya mulai dari program B20 hingga mendorong pariwisata. Realisasi CAD di kuartal I 2019 mencapai US$ 7 miliar atau sebesar 2,6% terhadap PDB.


Angka ini mengecil dibandingkan kuartal sebelumnya yang tercatat sebesar 3,57% terhadap PDB.

CAD tersebut melebar jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 2,01% terhadap PDB.

"Meskipun tidak serendah prakiraan semula. Sinergi kebijakan Bank Indonesia, Pemerintah dan Otoritas terkait akan terus diperkuat guna meningkatkan ketahanan eksternal," imbuh dia.

Sementara itu pada April 2019, neraca perdagangan mengalami defisit US$ 2,5 miliar sejalan dengan perlambatan ekonomi global, di samping karena faktor musiman. Sementara itu, aliran masuk modal asing berlanjut pada April 2019, terutama ditopang aliran masuk investasi portofolio.

Posisi cadangan devisa Indonesia akhir April 2019 tercatat sebesar US$ 124,3 miliar, setara dengan pembiayaan 7 bulan impor atau 6,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

(kil/fdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com