Kenaikan BI Rate Mengorbankan Pertumbuhan Ekonomi
Rabu, 05 Okt 2005 15:17 WIB
Jakarta - Kenaikan BI rate bak pisau bermata dua. Di satu sisi, kenaikan BI rate sebesar basis poin bisa mengurangi lonjakan inflasi akibat kenaikan BBM hingga 100 persen lebih.Namun di sisi lain, kenaikan BI rate akan menggerus pertumbuhan ekonomi. Bank Indonesia bahkan memangkas prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2005 dari 5,9 persen menjadi 5,7 persen."Tujuan utama BI rate supaya ekonomi stabil. Memang ada pengorbanannya, yakni pertumbuhan," kata Kepala Badan Kerjasama Ekonomi Internasional (Bapeki) Depkeu Anggito Abimanyu di Gedung Depkeu, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Rabu (5/10/2005).Rapat Dewan Gubernur BI Selasa (4/10/2005) akhirnya memutuskan menaikkan BI rate hingga 100 basis poin menjadi 11 persen. Kenaikan ini merupakan keempat kalinya sejak BI rate diluncurkan 5 Juli lalu.Menurut Anggito, kenaikan BI rate menjadi 11 persen merupakan salah satu instrumen untuk meredam inflasi akibat kenaikan harga BBM. "Supaya orang percaya pada rupiah dan tidak menggunakan uang berlebih untuk belanja sehingga ada peningkatan inflasi," kata Anggito. Akibat kenaikan BBM yang tajam pada 1 Oktober lalu, harga barang-barang langsung melonjak. BI pun memrediksi inflasi pada tahun 2005 bisa mencapai 12 persen. Meski demikian, Anggito optimistis pertumbuhan ekonomi tahun 2005 bisa mencapai 6 persen di tengah ancaman tingginya inflasi. "Kan masih ada waktu. Pemerintah akan mempercepat pengeluaran pemerintah pada kuartal III-2005 ini," ujar Anggito mantap.
(qom/)











































