Peningkatan NPL Perbankan Belum Terlalu Mengkhawatirkan
Kamis, 06 Okt 2005 15:13 WIB
Jakarta - Di tengah kenaikan suku bunga, peningkatan kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) mulai mengancam. Namun demikian, peningkatan NPL tersebut dinilai belum terlalu mengkhawatirkan."Kami tidak heran jika ada peningkatan NPL. Tapi bukan berarti kalau ini secara umum mengkhawatirkan," kata Dirut Bank Mandiri Agus Martowardojo usai penandatanganan kerjasama antara Bank Mandiri dengan Asuransi Jiwasraya, di Kantor Pusat Bank Mandiri, Jl. Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (6/10/05).Agus menambahkan, kenaikan NPL juga disebabkan karena pemberlakuan Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 7 tahun 2005. Namun menurut mantan Dirut Bank Permata ini, masalah tersebut sudah diantisipasi sebelumnya. Bank Mandiri saat ini tercatat memiliki NPL gross 24,8 persen dan NPL neto sekitar 15 persen. Agus mengakui angka tersebut masih cukup tinggi. Namun, menurutnya kondisi tersebut tidak mempersulit karena Bank Mandiri masih memiliki modal yang kuat."Modal Bank Mandiri masih kuat, CAR masih 23 persen sedangkan minimum BI mengatakan harus 8 persen," ujar Agus. Agus mengaku pihaknya telah memiliki action plan untuk mengatasi tingkat NPL yang tinggi. Untuk itu Bank Mandiri akan konsentrasi ke 30 debitor terbesar terlebih dahulu yang memiliki porsi hingga 75 persen dari total kredit Bank Mandiri. "Kita juga membuat program-program khusus untuk mencegah jangan sampai ada tambahan problem loan ke buku kita. Kita akan capai target 2007 NPL netto dibawah 5 persen," kata Agus.Agus juga memberi acungan jempol atas keputusan BI yang menaikkan suku bunga SBI hingga 100 basis poin menjadi 11 persen. "BI sudah tahu bahwa kita ada potensi inflasi yang tinggi jadi menaikan suku bunga sudah baik," tegas Agus.
(qom/)











































