Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 08 Jul 2019 11:00 WIB

Usai Digencet AS & China, Ekonomi RI Menanti 'Nafas Tambahan'

Ardhi Suryadhi - detikFinance
Foto: Grandyos Zafna Foto: Grandyos Zafna
Bali - Ekonomi Indonesia pada tahun 2019 diyakini bakal lebih punya ruang setelah beberapa tahun terakhir tergencet oleh kondisi ekonomi di Amerika Serikat (AS) dan China.

Menurut Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara, melambatnya ekonomi dunia sedikit banyak dipengaruhi oleh aksi Presiden AS Donald Trump. Bank Dunia pun telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada 2019 menjadi 2,6% dari sebelumnya 2,9%.

Kondisi ini lantas membuat Bank Sentral AS Federal Reserve (The Fed) berencana untuk menurunkan suku bunganya. Nah, hal ini pun pastinya bakal berdampak bagi Indonesia dan negara berkembang lainnya.

Lain Amerika lain pula China. Ketika ekonomi AS melaju dan kemudian dia menaikkan suku bunga, Indonesia malah kerepotan. Di sisi lain, saat ekonomi China melambat mulai tahun 2013, Indonesia juga ikut kerepotan.

"Jadi apa yang dialami Indonesia pada tahun 2013-2018 adalah gabungan kedua faktor itu. Kita menghadapi dua problem bersamaan," kata Mirza dalam forum group discussion dengan media di Plataran Menjanga, Bali, akhir pekan lalu.

"Ekonomi China turun membuat harga komoditi turun dan ekonomi AS naik membuat suku bunga AS naik, sehingga kita mengalami harga komoditi turun, ekspor kita turun tetapi kita harus menaikkan suku bunga. Kita menaikkan suku bunga di 2013 sampai 2014, kita sempat turunkan suku bunga di 2016-2017. Tetapi kita harus menaikkan bunga lagi di 2018," papar Mirza.

Adapun yang berbeda dalam kondisi ekonomi Indonesia pada tahun 2013 dan 2018 adalah, pada tahun 2013-2014 kita benar-benar menaikkan suku bunga karena ingin melakukan pengetatan. Sebab pada saat itu current account deficit (CAD) meningkat, pertumbuhan kredit tinggi. Sehingga BI mengambil langkah untuk menurunkan pertumbuhan kredit agar CAD terkendali.

Tetapi di tahun 2018, kenaikan suku bunga AS plus Trump dan China yang melambat sehingga berdampak pada ekspor Indonesia yang juga seret.

"CAD kita naik gara-gara ekspor melambat, impor kita naik bukan karena ekonomi melaju. Kalau di 2013, impor kita naik karena ekonominya kencang, sedangkan di 2018 lebih karena aktivitas infrastruktur. Jadi BI menaikkan bunga dengan maksud bukan untuk 'kill the growth' seperti di tahun 2013. Kalau di 2018 kita naikkan bunga untuk lebih mempertahankan daya tarik instrumen keuangan di Indonesia, makanya kemudian BI menambah likuiditas ke pasar dan suku bunga kredit nggak naik, bahkan sebenarnya turun," Mirza menjelaskan.

Sampai akhirnya, penurunan ekonomi AS yang terjadi di tahun 2019 ini membuat sang negara adidaya mengambil ancang-ancang untuk menurunkan suku bunga. Di mana hal ini akan membuat ekonomi Indonesia punya ruang untuk mulai melakukan pelonggaran.


"Maka dari itu BI menurunkan GWN (Giro Wajib Minimum). Kita mulai melakukan pelonggaran, dan pasar keuangan banyak yang menyebut AS akan turunkan bunga di Juli ini," imbuhnya.

Nah, pertanyaan yang kemudian muncul adalah seberana besar penurunannya? Mirza menyebut sepertinya tak akan banyak-banyak. Hal ini didasarkan dari sejumlah komentar 'orang dalam' The Fed yang mengindikasikan bahwa mereka pun sangat berhati-hati untuk menurunkan suku bunganya. Bahkan ada yang bilang belum saatnya.

"Jadi kalau kita kombinasikan statement mereka (orang-orang The Fed-red.) suku bunga akan diturunkan tapi besarannya akan sangat hati-hati, tetapi tetap akan membuat negara berkembang bisa melakukan pelonggaran," Mirza menandaskan.



Di 2045, Jokowi Pede Ekonomi RI Jadi Terkuat Keempat Dunia:

[Gambas:Video 20detik]





Simak Video "Kiat-kiat Sri Mulyani Naikkan Ekonomi RI 5,6% di 2020"
[Gambas:Video 20detik]
(ash/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed