Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 18 Jul 2019 09:55 WIB

Sudah 8 Bulan Ditahan, Akankah Bunga Acuan BI Turun?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: Rengga Sancaya Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Bank Indonesia (BI) hari ini akan mengumumkan hasil rapat dewan gubernur (RDG) bulanan. Salah satunya adalah suku bunga acuan atau BI 7 days reverse repo rate.

Tercatat sudah delapan bulan bank sentral menahan suku bunga acuan di level 6% dengan deposit facility 5,75% dan lending facility 6,75%.

Pada RDG bulan lalu, BI mengambil kebijakan pelonggaran giro wajib minimum (GWM) untuk bank umum konvensional dan bank syariah sebanyak 0,5% atau 50 basis poin (bps). Pelonggaran ini diharapkan bisa menambah likuiditas di perbankan.

Apakah hari ini BI akan menurunkan bunga?

Ekonom PermataBank, Josua Pardede mengungkapkan BI akan memangkas bunga acuan sebesar 25 bps pada RDG kali ini. Menurut dia hal ini karena BI mempertimbangkan perkembangan global secara khusus dari meredanya perang dagang sementara waktu.

"Serta ekspektasi stance kebijakan moneter yang longgar dari bank sentral negara maju salah satunya Fed, diperkirakan mulai menurunkan bunga acuan 25-50 bps tahun ini," kata Josua dalam keterangannya, dikutip Kamis (18/7/2019).



Dia menambahkan, ruang pelonggaran kebijakan moneter BI pun juga terbuka mengingat nilai tukar rupiah cenderung stabil terindikasi dari volatilitas rupiah yang menurun dalam sebulan terakhir ini.

Selain kestabilan rupiah, ruang pelonggaran moneter BI juga terbuka sejalan dengan ekspektasi menyusutnya defisit transaksi berjalan pada FY2019. Dengan pelonggaran kebijakan moneter BI tersebut, diharapkan dapat menjaga momentum pertumbuhan ekonomi domestik di tengah risiko perlambatan ekonomi global oleh karena permasalahan perang dagang antara Amerika Serikat dan China.

Kepala Penelitian Makroekonomi dan Finansial LPEM Univeristas Indonesia (UI) Febrio Kacaribu menjelaskan BI sudah perlu menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 bps.

Hal ini karena inflasi sudah dalam kisaran target. Sementara itu tantangan perdagangan global masih terus berlanjut dan perlu terobosan jangka pendek oleh Pemerintah.

Direktur Keuangan dan Strategi Bank Mandiri, Panji Irawan mengharapkan BI bisa menurunkan suku bunga acuan. Hal ini agar perbankan bisa menurunkan biaya dana.

Dia mengungkapkan, jika bank sentral menurunkan bunga acuan 25 bps saja, sudah cukup realistis untuk kalangan perbankan. "Terkait suku bunga memang ada harapan diturunkan 25 bps, karena kemungkinan besar ada penurunan 25 bps oleh bank sentral Amerika Serikat (The Fed)," kata Panji.



Panji mengungkapkan, jika bank sentral AS menurunkan suku bunga acuan maka ruang BI untuk menurunkan bunga juga semakin lebar. Karena, biasanya jika Fed menurunkan bunga maka akan diikuti oleh bank sentral di berbagai negara termasuk di Asia.

"Prediksi kami penurunan bunga acuan bagus untuk bank, misalnya dari 6% ke 5,75% maka special rate di bank akan turun dan ini berdampak ke penurunan biaya dana dan pendapatan bunga jadi bagus," jelas dia.

Sementara itu, Kepala Ekonom PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Ryan Kiryanto memprediksi BI tetap menahan bunga acuannya di level 6%. Ini karena BI sudah mengambil langkah pelonggaran GWM untuk likuiditas perbankan.

"Bunga acuan tetap 6% karena belum ada kepastian turunnya FFR oleh The Fed, Current account deficit (CAD) atau defisit transaksi berjalan masih lebar karena ekspornya sangat lemah. Lalu kinerja fiskal atau anggaran belum optimal dengan proyeksi defisit APBN 2019 yang melebar dari 1,8% ke 1,96%," jelas dia.


Sudah 8 Bulan Ditahan, Akankah Bunga Acuan BI Turun?


Simak Video "Hati-hati! Uang Mahar Nikah Jangan Dilipat"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com