Bulan Lalu Turun, Kini Bunga Acuan BI Diprediksi Tetap 5,75%

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Kamis, 22 Agu 2019 09:46 WIB
Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Bank Indonesia (BI) hari ini akan mengumumkan hasil rapat dewan gubernur (RDG) bulanan. Salah satunya adalah pengumuman suku bunga acuan atau BI 7 days reverse repo rate.

Bulan Juli lalu, akhirnya bank sentral menurunkan bunga sebesar 25 bps setelah 8 bulan menahan bunga di level 6%. Namun, Agustus ini, BI diprediksi menahan bunga acuan di level 5,75%. Apa ya penyebabnya?

Kepala Ekonom PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Ryan Kiryanto menjelaskan dengan mempertimbangkan perkembangan ekonomi global dan domestik yang masih diliputi ketidakpastian seperti perang dagang, Brexit hingga risiko geopolitik BI diharapkan menahan bunga acuan.

"Memang ruang penurunan BI rate masih terbuka, utamanya didasari oleh realisasi dan ekspektasi inflasi. Namun faktor eksternal yang masih kuat, membuat penurunan bunga pada hari ini belum saatnya," kata Ryan saat dihubungi detikFinance, Kamis (22/8/2019).


Dia mengungkapkan, isu likuiditas memang masih membayangi meskipun rasio giro wajib minimum (GWM), bunga deposito dan bunga kredit sudah mulai turun. Namun, menurut dia dengan komitmen pemerintah untuk segera membelanjakan anggaran di Kementerian dan Lembaga diharapkan bisa melonggarkan likuiditas perbankan. "Barangkali juga BI akan menguatkan kebijakan makroprudensial yang lebih akomodatif, misalnya rasio GWM rupiah diturunkan 50 bps, untuk mengendurkan likuiditas yang ketat," jelas dia.

Ekonom PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede juga mengungkapkan BI diprediksi akan menahan suku bunga kebijakan di level 5,75%. Hal ini disebabkan karena meningkatknya tekanan global akibat perang dagang dan menekan nilai rupiah beberapa waktu terakhir ini.

Menurut dia, meskipun BI diperkirakan akan menunda untuk kembali memangkas suku bunga kebijakan pada RDG bulan ini, BI dapat mengoptimalkan instrumen kebijakan lainnya, seperti kebijakan makroprudensial, kebijakan operasi pasar terbuka, sementara itu menunggu waktu yang tepat untuk menurunkan tingkat suku bunga kebijakan.



"Lebih lanjut, ruang pelonggaran kebijakan moneter diperkirakan terbuka dalam jangka pendek ini mempertimbangkan ekspektasi penurunan defisit transaksi berjalan pada tahun 2019, ekspektasi terkendalinya inflasi yang dapat mendukung stabilitas rupiah," kata dia.

Direktur riset CORE Indonesia, Piter Abdullah mengungkapkan BI diprediksi akan menahan suku bunga. Pertimbangannya antara lain karena sinyal yang tidak cukup dovish yang disampaikan oleh The Fed paska penurunan suku bunga bulan lalu.

Menurut dia, pelaku pasar lain sedang menunggu sinyal yang lebih pasti tentang arah kebijakan The Fed. Hal ini karena kebijakan tersebut akan berpengaruh terhadap aliran modal global. Kemudian, saat menunggu arah kebijakan The Fed, dolar AS terus menguat dan menekan rupiah. "

Sejauh ini pergerakan rupiah adalah rujukan kebijakan suku bunga acuan nya BI. Saya yakin BI akan menimbang bahwa the Fed cenderung menahan suku bunga, tekanan pelemahan rupiah masih tinggi, dan oleh karena itu yang paling tepat bagi BI adalah menahan suku bunga," imbuh dia.

Sebelumnya bunga acuan Bank Indonesia (BI) sudah diturunkan 25 bps menjadi 5,75% dari sebelumnya 6%. Suku bunga deposit facility turun 25 bps menjadi 5,25% dan lending facility 6,5%.

Simak Video "Transaksi Dinar-Dirham Bisa Dibui, Ini Kata Pedagang Pasar Muamalah"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/zlf)