Moratorium Berakhir, RI Harus Nyicil Utang Lagi Mulai 2006
Kamis, 27 Okt 2005 16:49 WIB
Jakarta -
Posisi APBN 2006 bakal tergencet. Selain membiayai kenaikan tunjangan DPR dan Presiden, pemerintah pun harus mulai menyicil utang lagi menyusul selesainya moratorium utang. Pembayaran cicilan utang itulah yang membuat cadangan devisa Indonesia selama tahun 2006 bakal tergerus hingga US$ 27,1 miliar, seperti tertulis dalam rencana kerja pemerintah (RKP) 2006. Sementara perkiraan cadangan devisa tahun 2005 dalam RKP mencapai US$ 30,7 miliar.Hal tersebut disampaikan Deputi Gubernur BI Hartadi Sarwono sebelum mengikuti rapat pleno Panitia Anggaran mengenai RAPBN 2006 di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Kamis (27/10/2005)."Itu kan pengaruh dari moratorium utang. Kita tahu, moratorium selesai tahun ini. Jadi mulai tahun depan pemerintah akan kembali menyicil utang," ungkap Hartadi.Mengenai meningkatnya posisi cadangan devisa dalam dua pekan terakhir menjadi US$ 32 miliar, Hartadi mengungkapkan hal itu disebabkan karena masuknya penerimaan pemerintah dari sektor migas.Sementara dari sisi pengeluaran, pemerintah juga tidak terlalu banyak dan utang-utang luar negeri sudah mulai dicairkan. "Kita berharap perbaikan ekonomi kita Harapan kita kalau fiskalnya sudah bagus, moneternya sudah bagus, prospek sudah bagus mudah-mudahan menambah kegiatan perekonomian termasuk dari PMA," ujar Hartadi.
(qom/)










































