Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 17 Sep 2019 18:28 WIB

Hati-hati! Ada Modus Pendanaan Terorisme Minta Sumbangan Masyarakat

Fadhly Fauzi Rachman, Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Ilustrasi/Foto: Rachman Haryanto Ilustrasi/Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Tindak Pidana Pendanaan Terorisme (TPPT) perlu diwaspadai setiap orang. Sebab, setiap orang ternyata bisa ikut terlibat atau berpartisipasi terhadap kegiatan kejahatan tersebut. Kok bisa?

Koordinator Penelitian Penilaian Risiko Nasional PPATK Patrick Irawan mengungkapkan ada sejumlah modus yang digunakan oleh pelaku TPPT dalam mengumpulkan uang atau pendanaan, salah satunya lewat donasi.

"Modus pengumpulan dana teroris terkini sejak 2015-2018, yang pertama kita lihat modus pengumpulan dana teroris yang berisiko tinggi adalah melalui donasi, kedua pendanaan sendiri, ketiga lewat media sosial," kata Patrick dalam workshop di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Selasa (17/9/2019).

Patrick menjelaskan, biasanya pelaku TPPT menggelar membuka aksi donasi berkedok kemanusiaan untuk bisa memuluskan rencananya dalam mendapatkan pendanaan. Contohnya donasi untuk bencana alam.


Dia bilang, target para pelaku biasanya masyarakat di kota-kota besar seperti Jakarta yang penduduknya banyak. Lokasi itu dianggap strategis untuk mengumpulkan sumber pendanaan untuk pelaku teror.

"Modus beberapa peristiwa, di mana terjadi bencana alam. Contohnya, di mana ada oknum, yang bersangkutan mengumpulkan dana, terutama di kota-kota besar, di mana Jakarta, merupakan wilayah yang strategis untuk mengumpulkan dana," jelas dia.

"Di mana Jakarta merupakan kota yang padat penduduk, less awareness masyarakatnya, sehingga ketika ada terjadi bencana alam, masyarakat Jakarta mudah tergerak untuk dimintai bantuan," sambung Patrick.

Patrick mengatakan, kurangnya kesadaran dari masyarakat bisa membuat niat baik yang diberikan justru malah merugikan negara. Hal itu lah yang harus menjadi perhatian masyarakat.

"Di sinilah yang terjadi kekhawatiran, ketika kita masyarakat Indonesia kurang peduli ke mana dana yang kita salurkan. Seharusnya dana yang kita salurkan ke tempat yang terpercaya. Jangan membuat kita membahayakan negara kita sendiri. Jangan kita memberikan bantuan, yang kita sendiri nggak tahu bantuan itu akan dikelola untuk apa," tuturnya.


Pendanaan Teroris Tak Hanya dari Cuci Uang, Tapi Bisa Dana Pribadi

Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menyebut saat ini pola dan sumber pendanaan untuk tindak terorisme tak hanya berasal dari hasil pencucian uang.

Menurut Kepala PPATK Kiagus Ahmad Badaruddin menjelaskan hal ini agak berbeda dengan modus pendanaan yang biasa terjadi di jaringan terorisme internasional. Terorisme di Indonesia ada dibiayai oleh diri sendiri atau self funding.

"Sekarang kecenderungannya ke arah sana (biaya sendiri). Jadi karena sendiri dan ini lebih sulit diatasi," kata Badar dalam acara workshop di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Selasa (17/9/2019).

Dia menjelaskan dana pribadi yang digunakan berasal dari hasil usaha skala kecil karena teror yang dilakukan juga dalam skala kecil.

"Bisnisnya yang sering diungkap itu usaha kecil-kecilan seperti servis handphone, jual pulsa. Karena yang banyak dilakukan di lapangan itu juga enggak besar kan dananya, ada bom panci misalnya," ujar dia.

Ia menyebut PPATK juga pernah membongkar sumber pendanaan yang melibatkan sebuah bisnis berskala besar. Namun, dia merahasiakan kasus dan nama usaha yang terindikasi melakukan pendanaan terorisme tersebut.

"Ada baru-baru ini, ada yang sedang gede itu melalui bisnisnya. Lumayan, badan usaha gitu. Tapi biasanya belum tentu dia ikut terlibat operasional. Hanya pendanaan saja," ujar Badar.


Terkait modus pencucian uang para pelaku terorisme itu, Badar mengatakan bahwa umumnya mereka selalu menggunakan identitas orang lain saat akan melakukan penyimpanan atau pengiriman uang.

Oleh karena itu, melalui pembaharuan National Risk Assessment (NRA) tindak pidana pencucian uang dan tindak pidana pendanaan terorisme ini diharapkan bisa ditangani lebih optimal ke depannya.

"Kita melihat apa yang jadi peningkatan risiko dari beberapa kegiatan itu, misalnya kegiatan yang bersifat pencucian uang," kata Badar.

"Meskipun saat ini memang belum ditemukan misalnya narkoba untuk pendanaan teroris, itu belum. Dulu pernah terjadi dengan menanam ganja untuk pendanaan semacam itu," ujarnya.

Simak Video "Disindir Selalu Telat Deteksi Dini Terorisme, BNPT Pamer Terobosan"
[Gambas:Video 20detik]
(ara/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com