Laba Bersih Bank NISP Tertekan Turunnya Harga Obligasi
Senin, 31 Okt 2005 10:59 WIB
Jakarta - Meski mencatat kenaikan pendapatan bunga bersih dan kredit masing-masing sebesar 13,3 persen dan 33 persen, namun laba bersih PT Bank NISP Tbk (NISP) sampai triwulan III-2005 justru turun 56,4 persen.Laba bersih Bank NISP sampai triwulan III-2005 hanya sebesar Rp 88,684 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp 203,790 miliar."Penurunan laba ini lebih banyak disebabkan oleh kondisi makro yang salah satunya membawa dampak pada pasar surat berharga yang kurang kondusif yang mendorong turunnya harga obligasi secara tidak wajar," kata Presiden Direktur Bank NISP Pramukti Surjaudaja dalam penjelasan tertulis, Senin (31/10/2005).Turunnya harga obligasi ini karena melambatnya pertumbuhan ekonomi yang dipicu berbagai faktor. "Namun kami masih optimistis bahwa pasar surat berharga akan segera membaik lagi dan memberikan kontribusi ke fee based income karena porfolio surat berharga yang kami miliki saat ini sudah sangat selektif antara lain banyak terdiri dari surat berharga milik pemerintah," ujar Pramukti.Selain itu sebagai dampak dari kenaikan suku bunga, margin pendapatan bunga bersih juga sedikit tertekan. "Karena kami tidak mau membebani bunga yang terlalu tinggi bagi debitor mengingat kondisi makro yang memang kurang mendukung," ungkap Pramukti.Bank NISP mencatatkan kenaikan kredit sebesar 33 persen dari Rp 9,5 triliun menjadi Rp 12,6 triliun. Pertumbuhan kredit tersebut memberikan kenaikan pendapatan bunga bersih sebesar 13 persen dari Rp 472,3 miliar menjadi Rp 533,8 miliar. Dilihat jenis penggunaannya, sebagian besar untuk modal kerja sebesar 48,4 persen, konsumer 32 persen dan investasi 19,6 persen.Rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) netto per 30 September 2005 sebesar 1,85 persen. Sedangkan rasio pinjaman dengan simpanan (Loan to Deposit Ratio/LDR) sebesar 80,6 persen. Serta rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) mencapai 13,82 persen.Dana pihak ketiga yang dihimpun mencapai Rp 15,6 triliun terdiri atas deposito 65,5 persen, tabungan 20,7 persen dan giro 13,8 persen. Dari sisi aset, per 30 September 2005 Bank NISP berhasil mencatatkan pertumbuhan sebesar 18 persen dari Rp 16,6 triliun menjadi Rp 19,6 triliun. Perseroan berharap masuk dalam kategori bank nasional pada tahun 2010. Mengenai rencana right issue keempat sebesar Rp 600 miliar, Pramukti optimistis CAR Bank NISP bisa meningkat menjadi sekitar 19 persen. Saat ini 70,66 persen saham Bank NISP dikuasai oleh OCBC Bank, sisanya dimiliki International Finance Corporation (IFC) sebesar 8,56 persen dan publik 20,78 persen.
(ir/)











































