Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 27 Sep 2019 16:25 WIB

Bank Sentral Ramai-ramai Turunkan Suku Bunga, Kenapa?

Vadhia Lidyana - detikFinance
Foto: Rengga Sancaya Foto: Rengga Sancaya
Kuta - Bank Indonesia (BI) menilai kebijakan ekonomi global mulai melonggar. Pelonggaran bunga acuan dilakukan seiring dengan perlambatan ekonomi global. BI sendiri menurunkan bunga acuannya menjadi 5,25%.

Direktur Eksekutif Komunikasi BI Onny Widjanarko menuturkan, hal tersebut dibuktikan dengan penurunan suku bunga bank sentral di 12 negara.

Sebut saja Amerika Serikat (AS), The Fed yang menurunkan suku bunga 25 basis poin (bsp) menjadi 1,75-2%. Kemudian RBI, bank sentral India menurunkan suku bunga menjadi 5,4%. Kemudian BSP, bank sentral Filipina menurunkan suku bunga 25 bsp menjadi 4,25%, dan sebagainya.

"Lagi musim penurunan suku bunga dan juga inflasi di berbagai negara sehingga, respons moneternya longgar," tutur Onny di Anvaya Beach Hotel, Bali, Jumat (27/9/2019).


Onny mengatakan penurunan bunga oleh bank sentral beberapa negara di dunia dilakukan untuk merespons pelemahan ekonomi.

"Dengan adanya pertumbuhan ekonomi global yang turun, trade war, volume dagang turun, direspons semua negara yang alami pertumbuhan melambat. Beberapa bank sentral turunkan suku bunga," jelas Onny.

Saat ini, kata dia, ada lima mesin penggerak ekonomi dunia, seperti Amerika Serikat (AS), Eropa, Jepang, China, dan India. Jika pertumbuhan ekonomi negara-negara tersebut melambat, maka akan berdapak ke perekonomian global, termasuk juga Indonesia.

"Jika semua pertumbuhannya cenderung turun, akhirnya pengaruh pada PDB dunia yang terkoreksi mulu dan juga ada penurunan perdagangan global dan sebabkan penghambatan perdagangan dunia, dan Indonesia terdampak karena kita ekspor komoditas yang sangat sensitif dengan pertumbuhan ekonomi dunia," imbuh dia.


Meski begitu, kata Onny, dengan adanya kebijakan moneter dan fiskal di Indonesia, maka negara ini masih punya kesempatan mendorong pertumbuhan ekonomi, meski tak begitu signifikan.

"Dengan adanya situasi dan kondisi global ini, pertumbuhan Indonesia turut terpengaruh global yang kurang menguntungkan. Pertumbuhan ekonomi kita melandai, masih ada prospek naik tapi tidak begitu kuat. Masih bagus, tapi nggak strong," pungkasnya.

Simak Video "Hati-hati! Uang Mahar Nikah Jangan Dilipat"
[Gambas:Video 20detik]
(ara/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com