Mayoritas Saham Perbankan Rontok

Mayoritas Saham Perbankan Rontok

- detikFinance
Rabu, 09 Nov 2005 11:17 WIB
Jakarta - Ancaman tingginya inflasi yang diredam melalui kenaikan BI rate akhirnya merontokkan saham-saham perbankan. Mayoritas saham perbankan di BEJ pada perdagangan Rabu (9/11/2005) langsung berjatuhan.Berdasarkan data perdagangan hingga pukul 10.45 waktu JATS, hampir semua saham perbankan, kecuali Bank Lippo dan BNI, harga sahamnya turun.Saham BCA (BBCA) turun Rp 150 menjadi Rp 2.975, Bank Danamon (BDNM) turun Rp 200 menjadi Rp 3.700, BRI (BBRI) turun Rp 75 menjadi Rp 2.375, Bank Permata (BNLI) turun Rp 20 menjadi Rp 520, Bank Mandiri (BMRI) turun Rp 20 menjadi Rp 1.300, Bank Panin (PNBN) turun Rp 15 menjadi Rp 350, BII turun Rp 5 menjadi Rp 140 dan Bank Niaga (BNGA) turun Rp 15 menjadi Rp 345.Sementara harga saham Bank Lippo (LPBN) justru naik Rp 20 menjadi Rp 1.570 berkaitan dengan dimulainya tender offer oleh Khazanah Malaysian yang menawarkan harga Rp 1.620.Demikian pula BNI harganya naik Rp 10 menjadi Rp 1.280. Namun khusus BNI pengaruhnya sangat sedikit mengingat jumlah saham yang beredar di pasar sangatlah sedikit.Bank Indonesia (BI) dalam laporan kinerja triwulan III-2005 mengakui ada peningkatan risiko usaha perbankan yang tercermin dari menurunnya kualitas kredit perbankan.Demikian pula risiko pasar masih meningkat seiring meningkatnya suku bunga baik domestik maupun global serta terdepresiasinya rupiah.BI juga mengingatkan jumlah kredit bermasalah alias non performing loan (NPL) perbankan selama triwulan III-2005 terus meningkat menjadi 8,9 persen. Pada triwulan II-2005, NPL perbankan tercatat 7,9 persen.Peningkatan NPL terutama berasal dari sektor industri. Sementara dari sisi jenis, kredit bermasalah semakin banyak dari investasi.Konsekuensi dari turunnya kualitas kredit itu adalah turunnya tingkat profitabilitas dan permodalan bank. Peningkatan NPL juga memaksa bank untuk meningkatkan penyisihan penghapusan kredit.Return on asset (ROA) selama triwulan III-2005 turun dari 2,8 persen menjadi 2,9 persen. Demikian pula CAR turun dari 19,45 persen menjadi 18,88 persen. Namun BI menilai, meski CAR turun, angkanya masih lebih tinggi dibandingkan CAR perbankan lain di Asia Tenggara.BI menegaskan akan mewaspadai penurunan kinerja perbankan pada tahun-tahun mendatang akibat ketidakstabilan kondisi makro ekonomi yang meningkatkan risiko usaha dan menurunnya perolehan laba. (qom/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads