Pemerintah Kurangi Proporsi Utang Valas Hingga 25%
Kamis, 10 Nov 2005 13:36 WIB
Jakarta - Pemerintah berupaya mengurangi proporsi Surat Utang Negara (SUN) dalam bentuk valuta asing (valas) sampai 25 persen. Komposisi utang valas per 31 Maret 2005 masih sebesar 49 persen.Sedangkan komposisi utang yang bersumber dari pembiayaan domestik per 31 Maret 2005 sebesar 51 persen."Kita berusaha menekan sampai 25 persen, sehingga sumber pembiayaan lebih banyak berasal dari dalam negeri," kata Dirjen Perbendaharaan Negara Departemen Keuangan (Depkeu) Mulia P Nasution di Gedung Depkeu, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Kamis (10/11/2005).Namun untuk meningkatkan pembiayaan dalam negeri tersebut, menurut Mulia, diperlukan pengembangan kemampuan pasar dalam negeri.Nantinya, semakin banyak SUN yang dipegang investor dalam negeri akan berdampak baik, karena sumber pembiayaan berasal dari saving secara nasional.Sebaliknya, ke depan, penerbitan SUN dalam valas akan dikurangi, karena semakin besar utang dalam valas, ditakutkan bisa semakin menekan rupiah."Mengurangi exposure kita dalam valuta asing itu sejalan dengan upaya kita meningkatkan kemandirian dengan menekan defisit, sehingga sumber-sumber pembiayaan dari luar negeri bisa kita kurangi," ujarnya.Berdasarkan keputusan Menteri Keuangan per 31 Maret 2005, jumlah utang negara saat ini kurang lebih Rp 1.282 triliun atau 52 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).Depkeu, ungkap Mulia, berusaha agar utang tersebut semakin jauh dibawah 60 persen dari PDB. Sedangkan defisitnya diusahakan di bawah 3 persen.Menurut Mulia, hingga akhir tahun ini pemerintah tidak lagi melakukan penerbitan SUN, karena lebih memfokuskan pada debt switching (pengalihan jatuh tempo utang).Namun Depkeu masih akan melakukan satu kali lelang lagi dalam rangka pelaksanaan buy back.
(ir/)











































