BI Rate 12,25% Hambat Ekspansi Kredit Perbankan

BI Rate 12,25% Hambat Ekspansi Kredit Perbankan

- detikFinance
Kamis, 10 Nov 2005 14:45 WIB
Jakarta - Kenaikan BI rate hingga mencapai 12,25 persen semakin menyulitkan perbankan untuk melakukan ekspansi kredit. BI rate yang dinilai paling 'aman' adalah 9-10 persen."Dengan level itu, bank masih bisa bergulir karena lending rate hanya 12-14 persen. Tapi kalau BI rate di atas 13 persen, tentunya akan agak berat," kata Komisaris BRI Aviliani saat ditemui di Kantor Kementerian BUMN, Jalan Dr Wahidin, Jakarta, Kamis (10/11/2005).Aviliani memperkirakan ekspansi kredit bisa turun dari sekitar 20 persen menjadi kurang dari 15 persen.Menurut pengamat ekonomi dari Indef ini, bank akan berupaya untuk menekan jumlah kredit bermasalah hingga akhir tahun 2005. "Lalu masalahnya baru akan muncul tahun 2006," tambahnya.Khusus untuk tahun 2005, Aviliani menilai secara umum kondisinya tidak terlalu buruk. Hal ini terlihat dari capaian target perbankan yang sudah mencapai 80 persen dari rencana anggaran dalam periode Januari hingga Agustus 2005.Namun gejala jumlah kredit bermasalah (NPL) sudah mulai terlihat. "Saat ini saja NPL netto sudah mencapai 5 persen, dan jika BI rate tidak turun bisa menjadi 8 persen," tambahnya.Untuk ke depan, perbankan masih bisa melakukan ekspansi kredit, namun akan terfokus pada sektor konsumsi. "Karena untuk bermain di investasi dan modal kerja akan bermasalah pada tahun 2006," ujarnya.Dalam kaitan BI rate dengan inflasi, Aviliani menjelaskan bahwa secara teori, jika inflasi mencapai 15 persen, maka BI rate harus berada di atas angka tersebut.Namun teori ini, menurut Aviliani, harus dipikirkan kembali dampaknya, terutama terhadap uang beredar. "Karena buktinya secara riil ketika BI rate naik 11 persen, dampaknya tidak banyak terjadi terhadap pengurangan uang beredar. Uang beredar tetap banyak dan inflasi menjadi tinggi," urainya.Aviliani menyarankan, pemerintah harus bersedia mengorbankan salah satu sektor untuk mengamankan sektor lainnya. "Jika mau sektor riil yang bergerak, tentunya suku bunga jangan dinaikkan. Yang terutama juga kita harus bisa menjaga nilai tukar rupiah," katanya.Untuk mengamankan rupiah, lanjut Aviliani, salah satunya bisa ditempuh dengan mengamankan kebutuhan-kebutuhan dolar BUMN. "Jika itu bisa dilakukan, BI rate tidak perlu dinaikkan," tandasnya. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads