Bank NISP Siap-siap Naikkan Bunga Kredit
Kamis, 10 Nov 2005 15:51 WIB
Jakarta - Menyusul naiknya tingkat suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) satu bulan sebesar 12,25 persen, PT Bank NISP Tbk (NISP) juga tengah bersiap menaikkan bunga kreditnya."Suku bunga kredit akan dinaikkan tapi belum tahu angkanya berapa, kemungkinannya bervariasi. Yang lebih penting adalah kualitas kredit bukan suku bunga," kata Presdir Bank NISP, Pramukti Surdaudaja.Ia menyampaikan hal tersebut usai rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) di Hotel JW Marriot, Jalan Lingkar Mega Kuningan, Jakarta, Kamis (10/11/2005).Selain bunga kredit, Bank NISP juga akan menaikkan bunga deposito yang besarannya akan disesuaikan dengan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).Meski, bunga kredit mengalami kenaikan, Pramukti optimistis kredit sampai akhir tahun bisa tersalurkan sebesar Rp 3 triliun. Sedangkan kredit yang sudah diberikan sampai September 2005 mencapai Rp 12,612 triliun.Diakui, kinerja perseroan terutama perolehan laba sampai akhir tahun tidak akan sebagus tahun lalu. Hal ini akibat anjloknya pendapatan dari surat berharga. "Untuk laba akan turun karena rugi obligasi," kata Pramukti.Hingga September 2005, perolehan laba dari surat berharga turun 530 persen menjadi rugi sebesar Rp 83 triliun dibanding tahun lalu yang meraup untung Rp 19 triliun.Sealin itu juga, terjadi peningkatan biaya overhead sebesar 39 persen menjadi Rp 405 miliar per September 2005. "Kalau untuk surat obligasi kemungkinan tidak akan ada penurunan lagi, tapi masih akan meningkat untuk beban overhead pembangunan infrastruktur dan SDM dalam rangka menjadi bank nasional," kata Pramukti.Portofolio obligasi sebesar 84 persen di surat utang negara (SUN), 8 persen di obligasi BUMN dan sisanya obligasi perusahaan swasta. Sedangkan komposisi utang valas sebesar 13 persen dan sisanya dalam bentuk rupiah.Pramukti juga mengatakan, untuk seterusnya Bank NISP akan mempertahankan rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) sebesar 14 persen mulai tahun depan. "Ini dalam rangka menjadi bank nasional," ujarnya.Untuk kinerja tahun depan, Pramukti mengaku, masih harus melihat suku bunga dan posisi rupiah terhadap dolar.
(ir/)











































