Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 11 Nov 2019 18:14 WIB

OJK Harus Dorong Bank Agar Turunkan Bunga Kredit

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: Ari Saputra Foto: Ari Saputra
Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat pembukaan Indonesia Banking Expo (IBEX) 2019 kesal karena bunga kredit di perbankan nasional masih tinggi. Target bunga kredit single digit tak pernah terealisasi.

Peneliti INDEF Bhima Yudhistira Adhinegara menjelaskan lambatnya penurunan suku bunga kredit terjadi karena adanya transmisi yang lambat. "Penurunan bunga acuan Bank Indonesia (BI) tidak cepat direspon karena kondisi likuiditas bank mengetat, maka transmisinya sangat lambat," ujar Bhima saat dihubungi detikcom, Senin (11/11/2019).

Dia mengungkapkan, saat ini masalah loan to deposit ratio (LDR) perbankan secara rata-rata masih mencapai 94,6%. Ini artinya bank harus mati matian berebut dana murah dari masyarakat. Karena, jika bank terlalu cepat mengikuti penurunan bunga BI, maka ada kekhawatiran akan pindah ke bank yang mempertahankan bunga tinggi.

Selain itu, kondisi ini juga ditambah dengan struktur perbankan yang tidak sehat. Persaingan antar 115 bank dinilai membuat bank bank kecil paling menderita di tengah perang likuiditas. Merger dan akuisisi berjalan sangat lambat.


"Idealnya OJK juga harus mendorong konsolidasi perbankan agar transmisi penurunan bunga acuan lebih cepat," jelas dia.

Menurut dia, masalah yang harus dipecahkan adalah pelonggaran likuiditas. BI bisa turunkan lagi GWM nya atau lakukan operasi moneter lain. Sedangkan untuk bank yang likuiditasnya ketat, pilihan menawarkan obligasi bisa jadi alternatif pendanaan. Namun, di tengah resiko pasar yang naik, tidak semua bank bisa terbitkan obligasi dan laku.

Bank kecil misalnya, cenderung konservatif. Mau terbitkan obligasi khawatir bunga nya juga mahal, dan segmentasi pembelinya terbatas. Jadi tidak semua bank bisa dengan cara terbitkan obligasi. Meskipun untuk bank buku 3 dan 4 relatif mudah.

Sinyal bank yang berlomba cari pendanaan alternatif jelas menunjukkan DPK sedang melambat. Beberapa bank khawatir repatriasi dana tax amnesty kembali keluar dari bank paska kontrak wajib pajak dengan pemerintah berakhir. Ini juga perlu diantisipasi pemerintah agar likuiditas bank tetap aman

"Artinya penurunan bunga acuan kali ini efektivitasnya relatif kecil bagi stimulus pertumbuhan kredit maupun pertumbuhan ekonomi," jelas dia.



Simak Video "Suku Bunga AS Naik, BI: Ekonomi RI Stabil"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/fdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com