Heboh Uang Kedaluwarsa Wiranto, Benarkah Ada Pecahan SG$ 10.000?

Danang Sugianto - detikFinance
Rabu, 13 Nov 2019 10:39 WIB
3.

Kata Sandiaga Uno

Heboh Uang Kedaluwarsa Wiranto, Benarkah Ada Pecahan SG$ 10.000?
Foto: Angga Aliya ZRF

Mantan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi kala itu mengaku dirinya tidak pernah melihat mata uang tersebut, bahkan dia kaget ada uang pecahan sebesar itu.

"Apa dolar Singapura 10.000? Nggak pernah lihat," ungkap Lutfi.

Lutfi juga mengaku tidak pernah memegang bahkan mempunyai mata uang tersebut.

"Nggak. Nggak pernah lihat," cetusnya sambil menggelengkan kepala.

Sementara pengusaha yang kini jadi politisi, Sandiaga Uno dulu mengaku penah melihat dan memegang uang asli Singapura tersebut, namun tidak pernah memilikinya.

"Saya pernah lihat bahkan pernah memegang uang pecahan SG$ 10.000 tersebut, tapi belum pernah memilikinya," kata Sandiaga.

Sandiaga mengakui, nilai uang tersebut sangat besar sekali jika dirupiahkan dan tentunya akan memudahkan bagi mereka yang melakukan bisnis. Namun dirinya menilai sangat naif jika uang tersebut justru diartikan menjadi tren digunakan oleh para koruptor.

"Selembar itu besar nilainya Rp 97 juta per lembar, tapi kalau diartikan sebagai sarana penunjang untuk korupsi sepertinya naif sekali, kalau orang mau korupsi ya korupsi, pakai uang pecahan apa pakai mata uang apa pun ya korupsi ya korupsi," katanya.

Sementara Mantan Menteri Koordinator Bidang Ekonomi Hatta Rajasa mengaku tidak mengetahui adanya pecahan uang SG$ 10.000 yang digunakan dan dimiliki secara terbatas itu.

"Yang ada cuma SG$ 1.000. Maksudnya SG$ 10.000. Saya belum dengar," kata Hatta.

Dahlan Iskan waktu itu juga mengatakan hal yang sama dengan Hatta. Dahlan mengaku tidak mengetahui adanya pecahan uang SG$ 10.000 meskipun sudah lama bergerak di bidang bisnis media selama puluhan tahun.

"Saya belum pernah lihat uang pecahan SG$ 10.000. Saya pernah lihat paling tinggi itu uangnya SG$ 1.000," sebutnya.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengatakan, dirinya belum pernah melihat bahkan memegang pecahan SGD 10.000.

"Saya nggak pernah lihat dan pegang. Saya nggak pernah lihat 10.000 seumur hidup. Masak ada SG$ 10.000?" kata Sofjan.

Pengusaha kawakan tanah air itu bilang, jangankan SG$ 10.000, pecahan SG$ 1.000 pun relatif jarang. Ia pernah punya pengalaman saat berkunjung ke restoran kecil di Singpura dengan pecahan SGD 1.000, ternyata tak mudah mencari kembaliannya. Selain itu, bank sentral Singapura juga tak gegabah mencetak banyak uang pecahan besar, karena untuk menghindari inflasi.

"SG$ 1.000 saja sudah susah, bank-bank saja nggak banyak paling SG$ 100 atau SG$ 50. Saya nggak pernah pegang SG$ 10.000," katanya.

Lalu Bambang Brodjonegoro yang saat itu menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan mengaku tak pernah melihat uang tersebut. Akan tetapi, dari sisi keamanan, menurut Bambang harusnya transaksi tunai di Indonesia sudah dibatasi. Misalnya dengan menentukan batas atas yang layak sesuai transaksi.

"Buat aturan di republik ini, transaksi tunai itu dibatasi. Misalnya maksimal Rp 100 juta saja. Sudah kan. Jadi 10 ribu dolar Singapura pasti lewat," ungkap Bambang.



(das/eds)