Banjir Air Mata Ratusan Warga Korsel Korban Jiwasraya

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Kamis, 05 Des 2019 07:54 WIB
Foto: Rengga Sancaya/detikcom
Jakarta - Ratusan orang Korea Selatan disebut jadi korban Asuransi Jiwasraya. Setidaknya tercatat 470 orang warga Korea di Indonesia yang menjadi korban asuransi pelat merah ini.

Hal ini diungkapkan oleh para nasabah di depan para anggota Komisi VI DPR. Bahkan, dalam sesi penyampaian pendapat, salah satu nasabah yang jadi korban sempat menitikan air mata.

Uniknya lagi, dari ratusan korban tersebut salah satunya adalah bos Samsung Indonesia. Bagaimana cerita lengkapnya? Buka halaman selanjutnya.


1. Air Mata Nasabah Tumpah di Depan Anggota DPR
Salah satu nasabah Asuransi Jiwasraya menitikkan air mata saat mengadu soal penunggakkan pembayaran polis asuransi Jiwasraya di depan Komisi VI DPR.

Kim Ki Pong namanya, wanita asal Korea Selatan ini mengeluhkan dana pensiun suaminya yang tertahan di Asuransi Jiwasraya. Pembayaran polis dan uang pokok yang ditanamkan, hingga kini belum ada pengembalian.

Kim juga mengatakan hingga suaminya meninggal di Indonesia pun, uang milik keluarganya masih tertahan di Jiwasraya. Kim juga mengatakan ingin pulang ke negaranya namun tidak memiliki dana.

"Saya punya dana pensiun suami saya, saya hanya mau pulang ke Korea, hanya tinggal sendiri di sini. Suami saya juga sudah meninggal di sini," ucap Kim berlinang air mata di depan anggota DPR Komisi VI, Jakarta, Rabu (4/12/2019).

Kim mempertanyakan kapan uangnya akan kembali. Dia pun mengatakan bulan ini anaknya akan menikah namun dia tidak bisa pulang ke negaranya.

"Bagaimana uang saya, bulan ini anak saya menikah, saya mau ikut keluarga, saya mau ikut anak saya," kata Kim.


2. 470 Nasabah Jadi Korban, Bos Samsung Salah Satunya
Salah satu perwakilan korban dari Korsel, Lee Kang Hyun bercerita bahwa kebanyakan orang Korea di Indonesia ditawarkan asuransi lewat bank. Salah satunya lewat Bank KEB Hana, dengan embel-embel asuransi milik perusahaan pelat merah, banyak orang Korea yang tertarik dan jadi nasabah.

"Saya ketua Kadin Korea Indonesia, saya korban juga, 470 orang Korea jadi korban. Orang Korea sebagian besar menabung di Hanna Bank, maka ditawari lah asuransi Jiwasraya. Orang Korea nanya bunganya berapa? Hanna Bank bilang bunganya tinggi, karena ini Jiwasraya milik negara," ucap Lee di Ruang Rapat Komisi VI DPR, Jakarta, Rabu (2/14/2019).

Usut punya usut, selain sebagai Ketua Kamar Dagang Industri (Kadin) Korea di Indonesia, Lee juga menjabat sebagai Vice President Samsung Indonesia.

Kembali ke keluhan Lee, dia menyebutkan bahwa dijanjikan oleh Bank Hanna bahwa asuransi Jiwasraya aman karena milik pemerintah.

"Mereka sampaikan ini asuransi BUMN jadi nggak ada masalah. Mereka bilang, kalau pemerintah nggak bayar berarti pemerintah bangkrut," ucap Lee.


3. Kronologi Pembayaran Polis Mandek
Lee menceritakan bahwa sejak Oktober 2018 polis asuransi mendadak tidak dicairkan. Dia mengatakan saat itu banyak orang Korea masih percaya menunggu pencairan, namun setelah setahun lebih pencairan mandek mulailah mereka was-was.

"Maka orang Korea ini percaya. Nah tanggal 6 Oktober 2018 ini mendadak nggak bisa dicairkan pokok dan bunganya. Kami masih positif beberapa lama, kami pikir sebentar akan dicairkan. Kok lebih setahun nggak dibayar," kata Lee.

Dia dan nasabah Korea lainnya pun mulai mencari jalan keluar uangnya kembali. Menghubungi Hanna Bank pihak bank angkat tangan, bahkan pihaknya sampai mendatangi Otoritas Jasa Keuangan hingga Kementerian BUMN namun kehadiran mereka ditolak.

"Kami mulai hubungi Hanna Bank, mereka angkat tangan. Kami ke OJK dan BUMN, tapi justru mereka menolak," ujar Lee. (dna/dna)