Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 20 Des 2019 10:30 WIB

Buka-bukaan Eks Direktur Jiwasraya soal Investasi di Saham Gorengan

Dana Aditiasari - detikFinance
Foto: Ari Saputra
Jakarta - Kondisi keuangan PT Asuransi Jiwasraya (Persero) tengah menjadi sorotan. Apa lagi, saat ini perusahaan asuransi itu tengah mengalami gagal bayar polis asuransi kepada para nasabahnya.

Masalah kian pelik lantaran Komisi VI DPR RI menganggap anggota dewan direksi PT Asuransi Jiwasraya (Persero) periode 2013-2018 adalah yang paling bertanggung jawab atas permasalahan pembayaran polis bancassurance nasabah.

Sorotan utamanya adalah perihal kebijakan direksi saat itu yang menempatkan investasi di saham gorengan. Saham gorengan adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan saham sebuah perusahaan yang naik turunnya terjadi secara tiba-tiba sehingga memiliki risiko investasi yang tinggi.

Direktur Keuangan Jiwasraya periode 2008-2018, Hary Prasetyo sebagai salah satu anggota dewan direksi yang menjabat kala itu pun akhirnya angkat bicara.

Lantas apa penjelasannya?

Kepada detikcom, Hary membeberkan alasan mengapa perusahaan kala itu harus berinvestasi di saham-saham yang punya risiko tinggi tersebut. Pertama adalah kondisi keuangan perusahaan yang tak memungkinkan untuk membeli saham blue chip atau saham lapis satu.

"Kalau saya mau beli, kalau kita mutuskan untuk beli, beli blue chip deh wah sangat senang saya, nggak usah repot-repot pak. Beli blue chip selesai, tapi cukup nggak uang kita waktu itu?" kata dia saat berbincang dengan detikcom di sebuah kafe di Jalan Surabaya, Jakarta Pusat, Kamis (19/12/2019).


Pernyataan Hary merujuk pada harga saham kategori blue chip yang biasanya sangat tinggi. Salah satu saham kategori Blue Chip saat ini harga per lembar sahamnya telah menyentuh angka Rp 40.700. Bila disimulasikan untuk pembelian 1 lot saham yang berisi 100 lembar saham, maka biaya yang harus dikeluarkan adalah sekitar Rp 4 juta/lot saham.

Dengan jumlah dana yang sama, investor bisa membeli lebih banyak saham lapis dua atau lapis tiga.

Selain harganya mahal, Hary mengatakan bahwa biasanya saham Blue Chip memiliki imbal hasil atau keuntungan yang kurang memadai. Karena harganya yang sudah terlanjur tinggi, umumnya kenaikan harga saham kategori Blue Chip kurang agresif.

"Retur-nya (keuntungannya) cukup nggak blue chip?" ucap dia.

Perlu diketahui, karakter dari saham Blue Chips adalah karena kapitalisasinya besar, saham Blue Chips cenderung bergerak steady dan tidak terlalu liar pergerakannya.


Padahal, saat itu perusahaan harus mengejar pendapatan besar dalam waktu singkat. Sehingga salah satu strategi yang diambil adalah dengan berinvestasi di saham non-Blue Chip.

"Harus agresif karena dia harus memberikan return yang besar untuk itu tadi (menutup tingginya kebutuhan dana untuk membayar polis yang jatuh tempo)," beber dia.

Meski demikian, lanjut dia, seluruh proses tetap dilakukan dengan menjalankan prinsip kehati-hatian. Diakui Hary, pihaknya rajin melakukan konsultasi ke berbagai pihak terkait seperti OJK dan BPK sebelum mengambil keputusan investasi.

"Bahkan kita sampai tanya ke OJK, mana saham yang boleh dan tidak boleh dibeli. Jadi bukan yang ugal-ugalan yang investasi yang tidak terukur. Terukur pak!" simpul dia.

Simak Video "Kejagung Buka Suara Soal Fee Broker Jiwasraya"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com