Ngeri! Ini Efek Domino di Balik Pertumbuhan Kredit yang Loyo

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Selasa, 31 Des 2019 12:30 WIB
Ilustrasi/Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Tahun depan, Bank Indonesia (BI) memprediksi pertumbuhan kredit berada di kisaran 10-12%. Sedangkan dana pihak ketiga (DPK) di level 8-10%.

Kemudian untuk realisasi pertumbuhan kredit perbankan, berdasarkan data uang beredar pertumbuhan kredit November 2019 tercatat sebesar 7% atau lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya 6,6%. Pertumbuhan kredit ini lebih lambat dibandingkan periode yang sama tahun 2018 sebesar 11,9%.

Menanggapi hal tersebut peneliti INDEF Bhima Yudhistira Adhinegara menjelaskan perlambatan kredit terjadi karena adanya gangguan pada intermediasi keuangan.

"Pelaku usaha yang membutuhkan suntikan dana untuk ekspansi akan kesulitan memperoleh modal baru," kata Bhima saat dihubungi detikcom, Selasa (31/12/2019).


Dia mengungkapkan, sektor ritel saat ini juga rentan terdampak karena minat belanja khususnya menggunakan kredit konsumsi berkurang. Hal ini berdampak ke pemutusan hubungan kerja (PHK).

"Kemungkinan kita akan melihat kiamat kecil tahun depan, di mana banyak mal dan pusat perbelanjaan makin sepi, sektor properti loyo dan jadi indikasi ekonomi tumbuh hanya 4.8%," ujar dia.


Kredit modal kerja (KMK) atau kredit konsumsi tercatat menahan laju pertumbuhan kredit yang lebih tinggi. KMK mengalami perlambatan menjadi 4% dibandingkan bulan sebelumnya 4,1%.

Kemudian kredit properti tercatat melambat menjadi 10,7% pada Oktober 2019 dari sebelumnya 12,6%. Perlambatan ini terjadi di kredit konstruksi, kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit real estate.

Simak Video "Kredivo: Pengaju Kredit di Masa Pandemi Meningkat Signifikan"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/ara)